PEKANBARU - Setelah berhasil melaksanakan ekspedisi tahap I pada 14-17 agustus 2020 di Goa Langkuik Tujuoh, Tim Ekspedisi Kommapala Winnetou Fakultas Teknik Universitas Riau melanjutkan ekspedisi tahap ke-II pada tanggal 4-6 september 2020 di Goa Proklamasi yang berada di Desa Gema Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar. 

Pada ekspedisi tahap ke-II ini, tim berhasil memetakan Goa Proklamasi dan memasang plang nama Goa setelah mendapatkan izin dari Kepala Desa Gema. 

Hasil dari ekspedisi kali ini akan di publikasikan lewat video dokumenter, publikasi jurnal, cerita perjalanan esai hasil ekspedisi. Ekspedisi ini pastinya tidak mengabaikan protokol Covid-19 dimasa pandemi ini.

Upaya 'penaklukan' Goa Proklamasi dawali dengan keberangkatan tim advent pada hari kamis 3 September pukul 06.00 WIB menggunakan mobil dan sepeda motor menuju Desa Gema dengan tujuan mendirikan camp induk, menganalisa ekosistem pada mulut Goa, dan membuat jalur turun (Rigging). 

Hal itu dilakukan karena Goa Proklamasi ini merupakan tipe Goa Vertikal, jadi akses untuk masuk ke dalam Goa ini dengan teknik SRT (Single Rope Technique), jadi akses masuk untuk Goa ini membutuhkan skill khusus bermain tali. 

Tim juga sudah mengurus perizinan ke Polsek Kampar Kiri Hulu dan mendapat sambutan hangat dari pihak kepolisian. Setelah mendapat izin tersebut, tim melanjutkan perjalanan ke Desa Gema, tepatnya ke rumah Kepala Desa Gema untuk mengurus perizinan dan memberikan pemberitahuan kegiatan kepada pemuda setempat.  

Setelah menyelesaikan perizinan dengan Kepala Desa Gema dan Pemuda, tim melanjutkan perjalanan ke tempat camp untuk mendirikan tenda, istirahat, sholat dan makan.

Setelah istirahat sholat dan makan, Alfatlian (NPW.160) dan Adi Suardirman (NPW.148) sebagai pembuat jalur di dampingi oleh Fadri Ramadian (NRA.106) melakukan pengecekan alat-alat yang akan di pakai untuk rigging pada jalur yang disaksikan oleh warga sekitar dengan antusias yang tinggi, ini menjadi tontonan warga karena mulut Goa Proklamasi ini terletak di pinggir jalan.

Rigging dilakukan dengan sangat hati-hati karena pada olahraga ekstreme ini mengutamakan safety, karena itu tim memakai pengaman minimal dua pengaman. Pembuatan jalur dilakukan hingga pukul 17.00 WIB dan di lanjutkan keesokan harinya. 

Jum’at (4/9/2020) tepatnya pukul 08.00 WIB setelah sarapan, tim rigging melanjutkan pembuatan jalur hingga pukul 11.00 WIB, menghasilkan variasi lintasan dari man ancor ke intermedied dan defiasi, jalur ini akan di pakai untuk eksplore setelah sholat juma’t dan istirahat makan. 

Pukul 14.00 WIB tim eksplore menyusuri setiap lorong goa, setelah melakukan SRT untuk masuk ke goa tim langsung di sambut oleh chamber goa. Chamber adalah sebuah ruangan besar memiliki langit-langit yang tinggi menyerupai kubah masjid. 

Goa Proklamasi memiliki beberapa lorong, dimana tim harus harus merangkak dan merayap untuk menempuhnya. Dalam hal ini, tim mendapati beberapa lorong ke atas yang merupakan pintu vertikal lainnya dari goa ini.

Tapi untuk menempuhnya, tim membutuhkan alat climbing khusus untuk caving dikarenakan dinding Goa ini di penuhi oleh ornamen-ornamen Goa dan Guano (kotoran kelelawar). 

Eksplore ini bertujuan untuk menganalisa ekosistem dalam Goa dan analisa untuk pengambilan data pemetaan esok hari

Pada pukul 17.00 WIB, tim pemetaan berangkat dari Pekanbaru setelah menyiapkan semua peralatan pemetaan dan pembuatan plang nama. 

Meskipun mendapatkan beberapa kendala di jalan seperti hujan yang deras dan berhenti untuk sholat dan makan, tim sampai di camp pukul 20.45 WIB dengan selamat. 

Tanpa membuang waktu, tim langsung merapikan alat dan melanjutkan dengan briefing hingga pukul 22.00 WIB dan langsung istirahat demi menjaga kebugaran supaya tubuh tetap vit saat pemetaan esok pagi.

Sabtu (5/8/2020) pukul 08.00 WIB setelah sarapan, tim langsung mempersiapkan alat safety untuk memasuki Goa seperti helm, cover all (baju khusus Goa), dan sepatu boot

Tidak lupa juga dengan peralatan SRT seperti harnest, carabiner screw, carabiner snap, croll, auto stop, foot loop, cowstail dan lainnya. Tim juga menyiapkan alat pemetaan seperti klinometer, kompas, ATK, kertas kalkir dan alat pemetaan lainnya. 

Setelah semua persiapan disiapkan, tim langsung menuju mulut goa guna memulai pemetaan.

Tim pemetaan terdiri dari 7 orang yaitu Alfatlian (NPW.160) sebagai Leader, Wahyudi Akhirat (NPW.161) dan Natasya Novianti (NPW.169) sebagai deskriptor, Husnul Fikri (NPW.167) sebagai shooter, Rilo M Ridho (NPW.175) sebagai pointer,  M Fadillah Ramadani (NPW.172) sebagai notulen, dan Adi Suardirman (NPW.148) sebagai informan mulut Goa. 

Setiap anggota harus bekerjasama untuk mendapatkan data pemetaan yang akurat.

Diawali dengan briefing dan berdoa di depan mulut goa, pukul 09.00 WIB pemetaan dimulai dengan masuknya leader dan diikuti oleh anggota pemetaan lainnya kecuali Adi.

Adi sebagai informan di pintu mulut goa bertugas sebagai pemberi informasi tentang apa yang terjadi di luar goa dan memberi tahu warga setempat agar tidak memasuki zona aman di depan mulut goa.

Karena ini akan sangat berbahaya bagi yang tidak memakai safety, karena ada potensi jatuhan tanah/bebatuan yang akan mengenai warga dan juga tim yang berada pada jalur turun di dalam goa. 

Pengambilan data untuk pemetaan dilakukan setelah semua anggota tim pemetaan turun dengan sukses. 

Pengambilan data seperti sudut kompas, kemiringan, dan penggambaran spesifikasi dalam goa oleh deskriptor. Pemetaan ini dilakukan hingga pukul 15.00 WIB dan satu persatu anggota tim pemetaan keluar goa dengan teknik SRT. 

Setelah semua keluar tim melakukan pengecekan alat lalu kembali ke camp untuk membersihkan diri, istirahat sholat makan, dan briefing

Briefing di malam minggu ini memutuskan bahwa pemetaan sudah selesai, karena semua lorong yang dapat diakses sudah berhasil dipetakan. Ada beberapa lorong yang ke atas dan ke bawahnya membutuhkan alat khusus, dimana untjk memetakannya membutuhkan alat khusus lain.

Minggu (6/9/2020), seperti biasa setelah sarapan pada pukul 08.00 WIB, tim melaksanakan agenda yang telah dirancang jauh-jauh hari, yaitu pemasangan plang nama Goa Proklamasi dengan seorang perwakilan dari perangkat desa.

Pemasangan plang nama ini bertujuan memberitahukan kepada setiap orang yang lewat agar mengetahui ada sebuah goa yang ia lewati. Dan rencananya goa ini akan dipasang pagar pengaman dan juga peta di depan mulutnya, begitu kata Kepala Desa Gema, Nizam.

Saat beberapa orang dari tim memasang plang nama goa, sebagian tim lagi mengambil beberapa video wawancara dengan perangkat desa, warga sekitar dan beberapa video di dalam goa. 

Tim turun dengan beberapa tamu dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), seperti Mapala Sakai Fisipol UNRI, Mapala Suluh FKIP UNRI, dan Mapedallima Hangtuah FT UIR. 

Rombongan ini mengambil beberapa video yang belum terselesaikan, karena saat pemetaan anggota tim tidak bisa di ganggu. Ditambah lagi, anggota tim mengalami beberapa kendala seperti baterai HP yang habis, cahaya headlight yang sudah mulai redup dan adanya ular di jalur lintasan, tapi tim tetap menyelesaikan progress dengan baik.

Saat rombongan masih mengambil video, anggota yang memasang plang nama, satu persatu keluar dari goa untuk kembali ke camp untuk packing dan membereskan barang-barang yang ada di camp karena berdasarkan schedule, sore itu tim akan kembali ke Pekanbaru.

Setelah semua tim keluar dengan selamat dari goa, langsung bergegas kembali ke camp untuk membersihkan diri, istirahat sholat dan makan bersama, beres-beres dan operasi semut untuk kebersihan camp, setelah itu langsung bersiap kembali ke Pekanbaru. 

Ditutup dengan doa bersama, tim beranjak pamit dengan warga setempat dan perangkat desa. ***


Penulis: Natasya Novianti (anggota tim)