TELUK KUANTAN, GORIAU.COM - Sejak beberapa tahun belakangan ini, Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) tengah gencar-gencarnya memerangi Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Nyatanya, hingga saat ini, setidaknya masih ada 845 kapal Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) beroperasi di sepanjang sungai Kuantan yang beroperasi. Dampak dari pencemaran lingkungan mulai dirasakan masyarakat.

Hal itu disampaikan Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis dalam Rapat Koordinasi Pimpinan Daerah di Pekanbaru, Rabu (4/12/2013). Harapannya, Djohermansyah Djohan selaku Pj Gubernur Riau mampu memberikan solusi terkait PETI di Kuansing ini.

"Berbagai upaya telah kami lakukan. Mulai dari pendekatan dengan masyarakat hingga tindakan keras seperti dengan membakar kapal-kapal tersebut," ujar Sukarmis. Sukarmis menyatakan telah berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Namun kenyataannya, lanjut Sukarmis, petugas yang mencoba menertibkan aktivitas PETI malah yang diserang masyarakat.

Sukarmis mulai mengkisahkan bagaimana rombongan yang terdiri dari petugas kepolisian mendapat hadangan dari masyarakat saat mencoba menertibkan aktivitas PETI di Kecamatan Hulu Kuantan. Ketika itu, petugas membakar seluruh kapal yang ada. Namun, hal tak terduga terjadi kepada kendraan mereka. Mobil dinas petugas dipukul dan dilempari dengan batu. Bentrokpun tak terhindarkan. "Kalau begini, seperti apa bagusnya lagi," ucap Sukarmis.

"Untuk itu, kami minta Pemprov Riau beserta muspida membantu mencarikan solusi terhadap persoalan PETI di Kuansing, seperti apa solusi yang terbaik," pinta Sukarmis.

Menanggapi hal tersebut, Pj Gubri yang akrab disapa Djo langsung angkat bicara. Bahwa, PETI merupakan hal serius dan tidak bisa dibiarkan merajalela. "Memang harus ada tindakan untuk menertibkannya," tegas Djo.

"Kita dari Pemprov tidak akan tinggal diam dengan persoalan ini. Kita akan upayakan solusi yang terbaik," tutup Djo.(***)