PEKANBARU, GORIAU.COM - Penyakit jenis baru yang lebih mematikan dibandingkan HIV/AIDS kini mulai ditemukan di Riau. Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad di Pekanbaru bahkan telah merawat dua orang penderita penyakit bernama tuberculosis multi drug resistant (TB-MDR) itu.

"Ada dua pasien yang sekarang menjalani perawatan jalanan secara rutin setiap harinya sejak Desember 2013 sampai sekarang," kata Dewi, seorang perawat di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau kepada wartawan di Pekanbaru, Rabu siang (8/1/2014).

Dua pasien tersebut menurut informasinya adalah seorang pria berusia 26 tahun yang merupakan rujukan dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Limapuluh, dan satu lagi wanita berusia 26 tahun rujukan dari Puskesmas Harapan Raya di Kecamatan Tenayanraya.

Informasi tim medis RSUD Arifin Achmad menyebutkan, bahwa penyakit TB-MDR adalah jenis penyakit berbahaya melebihi penyakit yang disebabkan "Human Immunodeficiency Virus infection / Acquired ImmunoDeficiency Syndrome (HIV/AIDS)". "Penyebaran atau penularan penyakit ini cenderung instan, bahkan orang yang berada di sekitar penderita bisa terjangkit secara langsung," kata petugas medis.

Terlebih, kata dia, orang yang berkomunikasi secara langsung atau bersentuhan dengan penderita. "Mereka itu sangat berpeluang terjangkit. Makanya, TB-MDR menjadi satu penyakit yang sangat berbahaya, dapat dikatakan lebih berbahaya dibandingkan HIV atau AIDS sekalipun," katanya.

Hasil pemantauan, dua pasien tersebut menjalani pemriksaan secara rutin di ruang khusus instalasi TB-MDR pada RSUD Arifin Achmad.

Humas RSUD Arifin Achmad, Marsiyah membenarkan pihaknya telah membuka ruang khusus instalasi TB-MDR untuk menangani kasus penyakit membahayakan itu.

Hasil survei Dinas Kesehatan Provinsi Riau menyatakan, bahwa dua persen TB MDR yang ditemukan merupakan TB yang sudah pernah diobati namun kembali kambuh.

Ahli medis menyatakan, bahwa TB-MDR adalah TB yang disebabkan oleh kuman mycrobacterium tuberclosis yang telah mengalami kekebalan terhadap obat anti tuberculosis (OAT). TB resisten tersebut timbul melalui dua cara, yakni pasien TB yang drop out pengobatan dan kasus penularan dari pasien TB resisten kepada pasien baru TB.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, TB-MDR tersebut sekarang menjadi masalah baru yang dihadapi program pemberantasan TB di Indonesia. Hal itu mengingat angka kejadian kasus cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

WHO global report 2012 telah menempatkan Indonesia pada peringkat 9 dari 27 negara dengan beban TB-MDR terbanyak didunia dengan perkiraan pasien sebanyak 6.620 orang.

Menurut ahlinya, persoalan TB-MDR bukan sekedar kasus TB biasa yang sudah banyak ditangani petugas kesehatan. TB jenis ini tergolong lebih sulit penanganannya dengan biaya yang sangat mahal sehingga pasiennya membutuhkan pertolongan biaya oleh pemerintah.(fzr/ant)