JAKARTA - Nilai utang akibat gelombang kebangkrutan bisnis di Jepang mengalami pembengkakan drastis pada pertengahan tahun ini. Laporan terbaru yang rilis pada Selasa (18/8/2026) mencatat bahwa kewajiban utang dari 1.028 perusahaan yang gulung tikar sepanjang Juli 2026 menyentuh angka 236,3 miliar yen atau setara Rp26,42 triliun, melesat 41,4 persen dari tahun sebelumnya.

Firma kredit Teikoku Databank Ltd mengonfirmasi bahwa kasus pailit terbesar sepanjang tahun ini dialami oleh Zentoshin. Perusahaan asal Osaka yang bergerak di bidang penyediaan sistem transaksi kartu kredit tersebut resmi mengajukan permohonan kebangkrutan dengan beban utang menembus 115,16 miliar yen atau sekitar Rp12,88 triliun.

Di luar kasus raksasa tersebut, riset komprehensif dari Tokyo Shoko Research menunjukkan tren kebangkrutan secara nasional merangkak naik 6,9 persen. Ini merupakan bulan kedua berturut-turut di mana angka penutupan bisnis melampaui seribu kasus. Beban terberat dirasakan oleh entitas usaha kecil dengan margin utang di bawah 100 juta yen yang mendominasi hampir 80 persen dari keseluruhan laporan.

Kelangkaan pasokan tenaga kerja dan tingginya biaya upah menjadi faktor penentu bagi puluhan perusahaan untuk mengibarkan bendera putih. Setidaknya 63 bisnis tumbang akibat masalah sumber daya manusia, meningkat tajam dari periode sebelumnya. "Kenaikan gaji tidak dapat dihindari untuk mendapatkan tenaga kerja, tapi perusahaan justru memperburuk arus kas mereka dengan menaikkan gaji melampaui kemampuan finansial saat mereka tidak mampu menghasilkan pendapatan yang memadai," jelas dokumen riset itu.

Kondisi arus kas ini diperparah oleh jatuhnya nilai tukar mata uang yen yang memicu 93 kasus pailit akibat lonjakan harga material dan bahan baku pokok. Badai ekonomi ini secara merata menghantam tujuh sektor industri utama. Tercatat sektor jasa menelan pil pahit terbanyak dengan 342 kasus, sementara sektor informasi dan komunikasi mencatat lonjakan pailit hingga 62,5 persen lantaran banyak perusahaan perangkat lunak tergusur oleh penetrasi kecerdasan buatan.***