SELATPANJANG - Tahun 2016, Kecamatan Tebingtinggi Timur Kepulauan Meranti kembali akan menargetkan zero hotspot seperti tahun 2015. Beberapa upaya pun telah dipersiapkan untuk mencapai target itu.

Menurut Camat 3T Helfandi SE, tahun 2014 yang lalu lahan dan hutan di Kecamatan 3T terbakar sekitar 5.400 hektar. Luasan kebakaran tersebut terjadi baik itu HTI kebun sagu NSP maupaun perkebunan masyarakat.

Namun, tambah Helfandi, pada tahun 2015 lalu, Kecamatan 3T zero hotspot. Hal itu bisa terwujud karena masyarakat sudah mulai sadar akan dampak negatif akibat karlahut. Sehingga, di beberapa desa telah membuat sekat kanal seperti Desa Sungaitohor bantuan dari Presiden RI Joko Widodo.

"Kami pemerintah Kecamatan 3T bersama pihak terkait baik Polisi, Bhabinkamtibmas dan Babinsa serta pihak desa akan bersinergi dalam rangka mengantisipasi jangan sampai ada karlahut. Kita berharap 2016 ini juga kecamatan 3T zero hotspot," ujar Helfandi.

Dijelaskan Helfandi juga, Kecamatan 3T telah menjalankan instruksi bupati bahwa sejak tanggal 1 Maret 2016, Kabupaten Kepulauan Meranti telah menetapkan siaga darurat karlahut. Para camat dan kades harus selalu siaga 24 jam selama 3 bulan kedepan.

"Merespon hal tersebut, Pemcam melakukan briefing kepada jajaran MPA, menyiapkan peralatan yang ada serta mengambil langkah siaga karlahut," ujar Helfandi lagi.

Lebih jauh menurut camat 3T yang akrab dipanggil In ini, tepat tanggal 1 Maret 2016 lalu, Ia telah mengumpulkan semua anggota MPA dan staf Kecamatan untuk bersiap segala sesuatu kemungkinan buruk yang akan terjadi. Iin pun telah meminta semua peralatan diukumpulkan dan diservice serta dicoba untuk simulasi. "Kita minta semua anggota MPA kecamatan  mulai melakukan sosialisasi ke setiap desa terkait dengan status darurat karlahut ini," kata In pula. (**/zal)