JAKARTA - Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) mencatat lonjakan drastis luas wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi. Berdasarkan pantauan lembaga tersebut, fenomena ini diduga kuat berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit.
Ancaman Pengeringan Kawasan Gambut
Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf menjelaskan bahwa metode pembukaan lahan perkebunan menggunakan api sering kali dianggap murah dan cepat. Kendati demikian, praktik ini memicu risiko yang sangat fatal di tengah musim kemarau.
"Dalam kondisi lahan yang sangat kering, api yang digunakan dalam proses pembukaan lahan berpotensi sulit dikendalikan dan kemudian merembet ke areal di sekitarnya," ujar Rudi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Proses pengeringan gambut menyebabkan kandungan air di dalam tanah menurun drastis, sehingga seluruh material organik berubah menjadi sangat rentan terbakar. Saat tersulut, api di kawasan gambut menjalar di bawah permukaan tanah dan sulit terdeteksi secara kasatmata, sehingga menuntut pengerahan sumber daya yang jauh lebih besar untuk pemadaman dibandingkan area tanah mineral.
Pemetaan Citra Satelit Sentinel-2
Hasil pemantauan terbaru yang dirilis bagian sistem informasi geografis (GIS) KKI Warsi menggunakan analisis citra satelit Sentinel-2 hingga Kamis (3/9/2026) menunjukkan angka kerugian ekologi yang signifikan. Total hamparan area yang terbakar kini menembus lebih dari 10 ribu hektare.
Angka tersebut merepresentasikan lonjakan hampir dua kali lipat jika disandingkan dengan rekam data pada pekan sebelumnya. Api terpantau melahap kawasan gambut maupun tanah mineral yang tersebar merata di sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.
Kabupaten Sarolangun mencatat area terdampak terluas mencapai 2.984 hektare. Wilayah ini disusul oleh Kabupaten Tebo dengan luas lahan terbakar 2.464 hektare serta Kabupaten Batang Hari yang menyentuh angka 2.338 hektare.
Senggol Area Perizinan dan Prediksi Cuaca
Berdasarkan proses tumpang susun data analisis satelit dengan peta perizinan wilayah Provinsi Jambi, titik api terindikasi berada di dalam cakupan 23 area perkebunan kelapa sawit dan 11 lokasi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
Secara spesifik, luasan kebakaran paling masif menghantam area hutan produksi (4.534 hektare), diikuti hutan produksi terbatas (2.960 hektare), serta areal penggunaan lain (2.144 hektare). Karhutla kali ini turut menghanguskan 1.344 hektare bentang alam gambut, di mana 87 hektare di antaranya merupakan gambut dalam dengan ketebalan lebih dari tiga meter.
Merujuk pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fase puncak musim kemarau di wilayah Jambi diperkirakan masih berlanjut hingga akhir September.
"Kondisi lahan yang semakin kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan api berpotensi cepat meluas, terutama di wilayah yang memiliki riwayat kebakaran serta lahan gambut yang rentan terbakar," urainya.***


