PEKANBARU, GORIAU.COM - Setelah melakukan konferensi pers, Bupati Kampar Jefry Noer dan Istrinya Eva Yuliana yang juga wakil ketua DPRD Kampar sekaligus ketua DPC Demokrat Kampar, yang menyatakan Nur Asmi (36) lah yang menyerang terlebih dahulu. Namun Nur Asmi menyatakan pernyataannya dalam konferensi pers itu tidak benar.

Menurut cerita Nur Asmi, saat itu ketika istri Jefry Noer, Eva Yuliana sedang melampiaskan amarah serta sempat bergelut dengan Nur Asmi, datanglah Bripka Very, ajudan Bupati Kampar. "Very, ajudannya mengeroyok saya, kepala saya dipukul, lalu supir truk ikut-ikutan juga, jadi saya dikeroyok tiga orang, karena ibu itu (Eva Yuliana) tak berhenti memukul,'' ketus Nur Asmi saat diwawancarai wartawan Selasa (3/6/2014).

Kejadian tersebut memang memiliki dua versi. Jika dari cerita korban yang memulai permasalahan adalah Eva Yuliana, lain pula versi Bupati Kampar dan istrinya. Mereka menuding Nur Azmi lah yang memulai permasalahan ini. ''Itu bohong, karangan mereka saja itu. Saya yang duluan diserang. Saya dikeroyok tiga orang,'' ujar Nur Asmi.

Nur Asmi mengakui dirinya memang mengumpat pada rombongan Bupati Kampar tersebut, namun itu dilakukannya setelah dia mengalami pengeroyokan dan merasa tidak diperlakukan selayaknya manusia. ''Saya diperlakukan seperti binatang makanya saya mengumpat mereka (rombongan Bupati Kampar)," katanya.

Terkait senjata tajam berupa parang panjang yang dikatakan Eva Yuliana digunakan oleh salah satu dari keluarga Nur Asmi, dia juga mempunyai cerita berbeda dengan cerita versi Bupati Kampar. Menurut Nur Asmi, keluarganya yang membawa parang adalah salah seorang saudaranya.

''Kakak saya ke pasar beli parang untuk nebas lahan, parang itu masih dibungkus kertas, saat dia dapat kabar pengeroyokan dia langsung menemui kami. Jadi itu masih dibawanya dan di letakkan di motor. Demi Allah SWT itu tidak digunakan, masih terbungkus kertas,'' kata Nur Asmi.

Terkait cerita versi Bupati kampar Jefry Noer yang menyatakan dihadang oleh pihak keluarga Nur Asmi, Nurazmi mengatakan bahwa itu agar pihak Jefry Noer berhenti. ''Agar berunding dengan ketua RT dan RW menyelesaikan masalah yang terjadi itu,'' imbuh Nur Asmi.

Kondisinya sendiri akibat apa yang terjadi, Nur Asmi mengaku trauma berat. ''Badan saya masih lemas, mata tidak bisa tidur. Trauma kalau ingat pistol itu, tak bisa tidur,'' keluh Nur Asmi.

Jamal suami Nur Asmi menambahkan, usai kejadian, dia membawa istrinya ke dokter yang ada di daerah tersebut. Setelah mendapat perawatan, kasus tersebut dilaporkannya ke Polres Kampar Ahad dini hari sekitar pukul 01.00 WIB dengan nomor laporan LP/132/V1/2014/Res Riau.Kampar dengan pelapor Nur Asmi dan Jamal serta terlapor Jefry Noer, Eva Yuliana dan ajudannya Bripka Very.

Informasi yang dirangkum merdeka.com sebagaimana dikutip GoRiau.com, Eva Yuliana merupakan Ketua DPC Demokrat Kampar, dan calon legislatif (Caleg) terpilih untuk DPRD Provinsi Riau dari Partai Demokrat . Sedangkan anaknya Rahmat Juniardo caleg terpilih DPRD Kampar dari Partai Demokrat.

Jefry Noer sendiri masih tersangkut kasus hukum, dalam dugaan korupsi BPR Sarimadu yang masih dalam proses persidangan dengan terdakwa Syafri.

Dalam sidang pun, beberapa saksi sempat menyebut bahwa Jefry Noer meminta ikut kepada Syafri untuk pergi perjalanan dinas ke negara-negara Eropa, Inggris, Prancis dan Belanda. Namun Jefry masih berstatus saksi dalam kasus yang yang ditangani Kejati Riau yang merugikan negara hingga Rp 207 juta. ***