JUDUL di atas adalah penggalan dari syair lagu “Keagungan Tuhan” ciptaan A Malik BZ yang dipopulerkan oleh D’lloyd tahun 70-an, dan mari kita lengkapi sebait lagu tersebut sebagai berikut:
“Insyaflah hai manusia, jika dirimu bernoda.Dunia hanya naungan untuk makhluk ciptaan TuhanDengan tiada terduga, dunia ini akan binasaKita kembali ke asalnya, menghadap Sang PenciptaSiapa selalu berbakti dan mengabdi pada IllahiKan sentosa selamanya, dunia dan akhir masa.”Sungguh indah dan puitis, barangkali si pencipta lagu terinspirasi karena pada masa itu banyak dilihat dan dirasakan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan manusia, terutama penguasa. Pencipta lagu ingin mengkritisi keadaan saat itu namun oleh kerana dia tidak punya kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi kecuali melalui syair-syair lagu.Semenjak reformasi, dengan jelas benang merah yang membedakan dengan zaman sebelumnya, yaitu “pembaharuan" dan semua sepakat bahwa negeri kita perlu diubah menjadi situasi yang baru. Segala kelemahan-kelemahan atau yang dianggap tidak cocok dengan keinginan rakyat harus diubah. Dari otoriter menjadi demokrasi, dari sentralisasi ke desentralisasi. Keran kebebasan dibuka, keberagaman dijunjung tinggi, pemerintahan yang bersih menjadi visi, keadilan merupakan pilar yang penting. Mendahulukan kepentingan rakyat sudah digaungkan dan banyak lagi hal-hal yang perlu diubah. Namun apa nyana, apa hendak dikata maksud hati memeluk gunung, apa daya gunung meletus. Sirna semua asa, apa yang didambakan rakyat masih saja merupakan kerinduan. Segala sektor sudah rusak, satu persatu pilar kehidupan runtuh. Lembaga pengadilan, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, legislatif, eksekutif, semua bernoda. Tak ada hari tanpa berita kemungkaran dan pelakunya wajah-wajah baru yang tidak terduga sebelumnya. Memang ada beberapa capaian strategis yang telah diubah seperti, desentralisasi, kebebasan, akan tetapi kesejahteraan rakyat, penegakan hukum, korupsi, kolusi, ketidak adilan semakin bermasalah. Sepertinya banyak orang berniat jahat terhadap bangsanya sendiri dan seolah-olah ada komando siluman yang mengajak: “mari kita hancurkan bangsa ini dengan cara masing-masing". Legislatif dengan cara mereka, eksekutif dan birokrasi dengan cara mereka, penegak hukum begitu pula. Guru dan dosen ikut menghancurkan bangsa dan yang tak mau ketinggalan murid dan mahasiswa ikut terperangkap. Parpol dan politisi tak mau ketinggalan, malah merupakan kelompok yang dominan ikut menghancurkan bangsa. Lengkaplah sudah semua aspek kehidupan bernoda, betul-betul luar biasa dan telah kelewat batas. Padahal kita umat beragama yang sebagian besar beragama islam tahu dengan larangan-larangan agama, tapi tetap saja tidak diindahkan. Kita juga tahu setiap pelanggaran agama ada sangsi baik di dunia maupun di akhirat kelak dan negara pun memberikan sangsi terhadap penyimpangan-penyimpangan warganya. Sangsi ini pulalah barangkali salah satu penyebab orang tidak jera karena sangsinya ringan-ringan saja. Seorang pejabat jelas-jelas bersalah, paling-paling sangsinya mutasi atau non job. Peringatan-peringatan agama maupun pemerintah dianggap angin lalu. Padahal bermacam-macam peringatan seperti musibah-musibah yang datang silih berganti, krisis-krisis yang tak kunjung selesai, kecelakaan lalu lintas (udara,laut dan darat) tak pernah berhenti, banjir, asap, longsor, gunung meletus yang kesemuanya itu sesungguhnya merupakan peringatan keras dari Allah. Kita tidak pernah introspeksi, tidak pernah merenung, barangkali Allah murka karena umatnya sudah keterlaluan dan melampaui batas. Ingat peristiwa yang menimpa nabi Musa dan pengikutnya, dimana pada masa itu Allah menimpakan musibah demi musibah karena umat pada masa itu telah melampaui batas. Mereka berbuat zalim, sombong dan angkuh (Fir’aun dan Qarun) sedangkan peringatan melalui nabi Musa tidak mereka hiraukan, maka ditimpakanlah bermacam-macam musibah kepada mereka. Nampaknya peristiwa pada nabi Musa tersebut kini terulang kembali walaupun tidak serupa tapi tetap saja membuat rakyat menderita. Ketidak adilan, korupsi, perselingkuhan, ketidakjujuran, kemiskinan, semakin akrab dan manusia-manusia Fir’aunisme dan Qarunisme semakin banyak yaitu manusia-manusia yang durhaka kepada Allah, kufur nikmat, sombong, angkuh dan suka memperolok-olokan agama. Dalam kondisi seperti inilah kita diminta untuk saling mengingatkan, menghimbau agar sadar dan insaf. Marilah kita kembali kepada ajaran Allah, mari kita amalkan apa-apa yang telah diketahui dari ajaran Alquran (perintah dan larangannya). Memang tidak ada manusia yang luput dari dosa dan solusi dosa adalah tobat. Tobat merupakan pernyataan dan penyesalan seseorang atas perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Dalam Alquran banyak ayat yang menyuruh kita agar tobat apabila diri kita bernoda. Surat Annur 31: “Bertobatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung".Begitu pula Surat Thaha 82: “Sesungguhnya aku maha pengampun bagi orang-orang yang bertobat, beriman, beramal saleh dan kemudian tetap di jalan yang benar (ajaran-Ku)".Jika kita tidak bertobat Allah pun telah menetapkan sebagai orang-orang yang zalim. “Barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim". (Al hujurat 11).Berat memang melakukan tobat, karena berjanji tidak akan mengulangi lagi, makanya orang enggan untuk tobat, maunya hanya berdoa dan berzikir dan sudah menjadi tontonan, malah sedang ngetrend. Seiring dengan doa dan zikir, bermunculan pula ustad-ustad spesialis zikir dan doa. Mereka dianggap “penyelamat umat”, sehingga mereka pun cukup laris saat ini, apalagi dengan adanya sponsor. Berdoa itu jelas perintah agama, berdoalah dan berzikirlah kamu kapan saja dan dimana saja, aku akan kabulkan, kata Allah. Akan tetapi tidak gampang dan tidak otomatis doa akan dikabulkan Allah, ada syaratnya antara lain, mematuhi dan mengamalkan segala perintah dan larangannya. Jika tidak, doa dan zikir akan sia-sia belaka. Tak logis berdoa giat, setelah itu maksiat giat pula.Saran* Untuk sahabat-sahabat yang berstatus terpidana, jangan lupa tobat berjanji tidak akan berbuat lagi, jadilah orang-orang tawadduk, rendah diri, jangan pongah lagi dan segera jauhi sifat tamak.* Untuk yang belum ketahuan tapi melakukan KKN hati-hatilah, cepat atau lambat akan ketahuan apalagi Allah Maha Tahu. Kebenaran itu akan datang cepat atau lambat. Insyafilah perbuatan anda dan kembalilah kejalan Allah. Jika telah ketahuan, tak usah membantah apalagi melalui pengacara yang over acting seolah-olah penegak hukum lainnya tidak benar. Lalui saja apa adanya, tunjukkan sikap penyesalan dan jangan pongah. Sudah terdakwa, ketawa-ketawa pula.* Untuk kita semua, sekedar mengingatkan bukan menggurui, bahwa kita ini umat beragama, Allah itu Maha Mengetahui (Muhaimin). Azabnya sangat berat baik didunia maupun di Akhirat. Mari kita berusaha terus mengendalikan diri menuju umat yang tawadduk.Mari kita merenung, menghisap diri sebelum di hisab di akhirat kelak. Mudah-mudahan timbul kesadaran untuk tetap dijalan Allah. "Insyaflah hai manusia, agar sentosa selamanya, dunia dan akhir masa".***Drs H Iqbal Ali, MM adalah Ketua STISIP Persada Bunda


