SELATPANJANG - Widya Septyati (21), terpilih untuk mewakili Indonesia ke Jepang dalam program Saga University Program for Academic Exchange (SPACE). Namun, Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR) semester 6 Prodi S1 Agribisnis ini harus menyiapkan dana sebesar lebih kurang Rp60 juta untuk biaya hidup selama satu tahun di Negeri Sakura tersebut.

Ditemui GoRiau.com, Widya mengaku telah lulus test program Saga University Program for Academic Exchange (SPACE) dan akan mewakili Indonesia. Perempuan yang aktif dalam berbagai organisasi ini mendapat kabar gembira setelah Universitas Saga menverifikasi berkas (dokumen) yang dikirimnya Bulan Maret 2017 silam.

"Dokumen yang dibutuhkan Saga saya kirim Maret 2017 lewat pos. Tanggal 15 Juni 2017 masuk email dari Saga bahwa saya dinyatakan lulus. Alhamdulillah saya akan mewakili Indonesia belajar di Saga selama 1 tahun," cerita Widya.

Anak bungsu dari empat bersaudara itu akan berangkat ke Jepang pada akhir Bulan September 2017. Di Saga, Widya akan belajar tentang marketing (pemasaran) dan ini akan sejalan dengan skripsinya tentang pemasaran sagu di Kepulauan Meranti.

Namun, apa hendak dikata. Kabar gembira yang diterima Widya, terbentur pula dengan kabar kurang baik lainnya. Dimana, Widya yang akan berangkat ke Jepang itu tidak mendapat beasiswa dari Saga seperti angkatan sebelumnya.

Sementara pihak Kampus UIN hanya membantu biaya transportasi (pergi pulang) ke Jepang sebesar lebih kurang Rp22.918.400,-. Sedangkan biaya hidup selama di Jepang sebesar Rp59.882.381 (dengan perkiraan Rp4.990.198,4 x 12 bulan yang peroleh dari web resmi Saga) harus dicarinya sendiri.

"Tahun lalu (2016) masih ada beasiswa sebesar 80 ribu yen perbulan atau sekitar Rp9 juta. Tahun 2017 UIR tidak lagi dapat beasiswa tersebut," cerita mahasiswa UIR itu lagi.

Untuk itu, Widya berencana mencari bantuan dana ke beberapa pihak yang ada di Kepulauan Meranti. Ia juga menerima sumbangan dari pihak lain yang ingin membantu meringankan biaya hidup selama di Jepang. "Kekurangan biaya hidup saat sudah di Jepang biarlah saya cari dengan pekerjaan sampingan," tekad Widya.

Di Kepulauan Meranti, Widya dibantu teman-teman dari Meranti mengajar untuk berkomunikasi dengan beberapa pihak. Nantinya, Meranti Mengajar akan berkoordinasi dengan dinas, anggota DPRD, Perbankan, perusahaan, terkait upaya membantu Widya ini.

"Semoga apa yang diharapkan bisa terwujud. Jarang-jarang anak Meranti berkesempatan belajar hingga ke Jepang. Semoga pula selesai kuliah nanti Widya bisa memberikan kontribusi positif untuk daerah," ujar Basiruddin didampingi Rustam dan Dayat.

Bagi warga yang ingin ikut berpartisipasi, silahkan menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu Widya. ***