Sebuah Peringatan, Bukan Kesimpulan

Ada sesuatu yang menggelisahkan kita akhir-akhir ini. Bukan karena manusia tiba-tiba tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita tahu. Bahkan sangat tahu.

Yang mengkhawatirkan adalah ketika yang salah mulai terasa biasa.

Korupsi disebut “jatah”. Suap disebut “uang terima kasih”. Nepotisme disebut “membantu keluarga”. Manipulasi disebut “strategi”. Mengambil hak orang lain disebut “kesempatan”. Kebohongan disebut “cara menyelamatkan keadaan”.

Bahasa berubah, tetapi substansinya sama. Yang haram diberi nama baru agar hati lebih mudah menerimanya. Inilah yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar pelanggaran.

Ketika Dosa Kehilangan Rasa Malu

Sebuah masyarakat tidak langsung rusak dalam satu malam. Kerusakan moral biasanya berjalan perlahan. Mula-mula seseorang melakukan kesalahan dan merasa bersalah. Kemudian ia mencari pembenaran. Lalu ia melihat orang lain melakukan hal yang sama. Setelah itu muncul kalimat yang sangat berbahaya, ”Semua orang juga begitu.”

Dari sinilah sesuatu yang dahulu dianggap memalukan berubah menjadi kewajaran. Yang salah menjadi biasa. Yang biasa akhirnya dianggap benar. Dan pada titik tertentu, orang yang masih memegang prinsip justru dianggap aneh.

Inilah saat sebuah masyarakat tidak hanya sekadar mengalami krisis moral, tetapi mulai kehilangan rasa malu terhadap pelanggaran moral.

Ketika Keuntungan Mengalahkan Prinsip

Kita hidup dalam zaman yang sering mengukur keberhasilan dari hasil akhir. Berapa banyak hartanya? Apa jabatannya? Seberapa terkenal namanya?

Tetapi, kita semakin jarang bertanya: Bagaimana semua itu diperoleh? Padahal, pertanyaan itulah yang menentukan apakah sebuah keberhasilan layak disebut keberhasilan.

Kekayaan yang diperoleh dengan cara mencurangi orang lain bukan sekadar angka di rekening. Jabatan yang diperoleh dengan membeli pengaruh bukan sekadar posisi. Gelar yang diperoleh dengan kecurangan bukan sekadar selembar ijazah. Keuntungan yang diperoleh dengan merampas hak orang lain bukanlah keberhasilan yang sesungguhnya.

Sebab nilai sebuah hasil tidak dapat dipisahkan dari cara mendapatkannya.

Ketika Benteng Moral Ikut Retak

Yang membuat kegelisahan semakin besar adalah ketika persoalan ini menembus hampir semua lapisan kehidupan. Masyarakat biasa. Pedagang. Pengusaha. Pejabat. Akademisi. Dunia pendidikan. Dunia kesehatan. Bahkan mereka yang selama ini dipercaya sebagai penjaga moral dan keteladanan.

Ketika seorang tokoh agama tersandung korupsi, misalnya, yang runtuh bukan reputasi pribadi. Ada kepercayaan publik yang ikut terluka.

Tetapi kita juga harus adil. Jangan menghukum seluruh kelompok karena kesalahan sebagian orang.

Agama tidak menjadi salah karena ada pemeluknya yang menyimpang. Pendidikan tidak kehilangan makna karena ada pendidik yang tidak berintegritas. Negara tidak boleh sepenuhnya dianggap buruk karena ada pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan.

Yang harus kita lawan adalah perbuatannya, pembenarannya, dan sistem yang membuat perbuatan itu terus berulang. Sebab jika kita kehilangan kemampuan membedakan antara kritik dan kebencian, kita hanya akan menghasilkan masyarakat yang sinis. Dan masyarakat yang sinis mudah berkata, ”Percuma jujur.” Itulah kalimat yang harus kita lawan.

Yang Halal Mungkin Lebih Sunyi

Ada sesuatu yang sering luput dari perhatian kita. Orang jujur jarang menjadi berita. Pedagang yang tidak mengurangi timbangan tidak viral. Pegawai yang menolak suap tidak menjadi tontonan. Pengusaha yang membayar kewajibannya dengan benar tidak selalu disorot. Orang tua yang memilih hidup sederhana agar anak-anaknya tumbuh dengan rezeki yang halal tidak masuk dalam halaman depan surat kabar.

Padahal mereka ada. Jumlah mereka mungkin jauh lebih banyak daripada yang kita kira. Mereka hanya tidak berisik.

Karena itu, jangan mengukur moral sebuah masyarakat hanya dari apa yang ramai diberitakan. Berita memperlihatkan apa yang menarik perhatian. Bukan selalu apa yang paling banyak terjadi.

"Yang Haram Tinggal Sedikit" adalah Peringatan

Maka, judul ini jangan dibaca sebagai kesimpulan bahwa kebaikan sudah hampir habis. Tidak. Ini adalah peringatan.

Peringatan bahwa batas antara halal dan haram jangan sampai terus dikaburkan. Peringatan jangan sampai anak-anak kita tumbuh dengan keyakinan bahwa kejujuran adalah milik orang-orang naif. Peringatan bahwa jangan sampai generasi berikutnya menganggap bahwa untuk berhasil, seseorang harus pandai mencari celah. Peringatan bahwa jangan sampai kita mewariskan bukan hanya harta kepada anak-anak kita, tetapi juga budaya membenarkan yang salah.

Sebab yang paling berbahaya bukan ketika seseorang melakukan dosa. Yang paling berbahaya adalah ketika ia tidak lagi merasa bahwa dirinya sedang melakukan dosa.

Masih Ada Cahaya

Namun, saya tidak pesimistis. Justru karena kita masih melihat masalah, berarti hati kita masih memiliki kegelisahan. Dan selama kegelisahan moral itu masih ada, harapan belum mati.

Masih ada orang yang memilih halal meskipun sedikit. Masih ada orang yang mengembalikan sesuatu yang bukan haknya. Masih ada orang yang menolak uang yang tidak semestinya. Masih ada orang yang menolak kesempatan karena memilih kejujuran. Masih ada orang yang mau tidak membeli jabatan. Masih ada orang yang rela hidup sederhana agar keluarganya tidak makan dari sesuatu yang meragukan. Mereka adalah cahaya.

Mungkin kecil. Mungkin tidak terlihat. Tetapi cahaya tidak harus besar untuk mengalahkan gelap. Sebuah lilin yang menyala di ruangan gelap sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kegelapan bukanlah segalanya.

Kita Tidak Harus Mengubah Dunia Hari Ini

Kita mungkin tidak bisa membersihkan seluruh sistem. Kita mungkin tidak bisa membersihkan semua korupsi. Kita mungkin tidak bisa mengubah semua masalah. Tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu yang sangat mendasar: Jangan menjadi bagian dari masalah.

Jika kita berdagang, berdaganglah dengan jujur. Jika kita bekerja, bekerjalah dengan amanah. Jika kita memegang jabatan, jangan jadikan jabatan sebagai mesin memperkaya diri. Jika kita memegang kekuasaan, jangan gunakan untuk menindas. Jika kita memiliki ilmu, jangan gunakan untuk menipu. Jika kita menjadi orang tua, ajarkan anak-anak kita bahwa keberhasilan bukan hanya tentang berapa banyak yang diperoleh, tetapi bagaimana memperolehnya.

Jika suatu hari kita dihadapkan kepada pilihan antara keuntungan dan prinsip, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: "Apa gunanya mendapatkan banyak, jika cara mendapatkannya membuat kita kehilangan diri sendiri?”

Pada akhirnya, kita boleh marah melihat ketidakadilan. Kita boleh kecewa melihat kemerosotan moral. Kita wajib mengkritik ketika yang salah dianggap benar. Tetapi kita tidak boleh kehilangan harapan.

Sebab selama ada orang yang memilih jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan, memilih amanah ketika berkhianat lebih mudah, memilih halal ketika yang haram lebih cepat, dan memilih benar ketika yang salah lebih populer—Maka cahaya itu masih ada.

Bahkan mungkin, cahaya yang kita tunggu-tunggu di ujung sana bukanlah sesuatu yang akan datang dari orang lain. Cahaya itu harus kita nyalakan sendiri.

Dari rumah kita. Dari pekerjaan kita. Dari usaha kita. Dari jabatan kita. Dari keputusan-keputusan kecil yang tidak diketahui siapa pun.

Karena perubahan besar dalam sebuah bangsa sering kali tidak dimulai dari panggung yang megah. Dimulai dari seseorang yang, ketika memiliki kesempatan berbuat salah, memilih berkata: ”Tidak. Saya tidak mau.”

Tidak ikut korupsi. Tidak ikut menipu. Tidak ikut mengambil yang bukan haknya. Tidak ikut menghalalkan segala cara.

Yang haram mungkin tampak semakin ramai. Tetapi jangan pernah percaya bahwa yang halal telah kalah. Masih ada cahaya terang di ujung sana. Dan barangkali, tugas kita bukan sekadar mencari cahaya itu. Tugas kita adalah menjadi salah satu sumber cahayanya. ***