
TELUKKUANTAN - Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau terkenal dengan pacu jalurnya. Ya, budaya yang sudah ada sejak ratusan tahun silam memiliki daya pikat tersendiri.
Bagaimana tidak, jelang perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, semua orang di Riau khususnya Kuansing membicarakan tentang pacu jalur. Bahkan, para pengunjung tak hanya masyarakat Riau saja, tapi juga wisatawan domestik dan mancanegara.
Wajar, jika pacu jalur masuk kalender pariwisata nasional dan salahsatu pariwisata unggulan Provinsi Riau.
Agar pacu jalur semakin mendunia, Pemerintah Kabupaten Kuansing terus berbenah. Terutama dalam hal infrastruktur penunjang pariwisata. Seperti Tepian Narosa Telukkuantan yang menjadi tempat pelaksanaan iven nasional pacu jalur tradisional.
Karena itu, pada tahun 2017 ini, Pemkab Kuansing akan memulai menata ulang Tepian Narosa dengan konsep Water Front City. Bagi masyarakat Kuansing, konsep ini bukanlah hal baru. Sebab, pada tahun 2006 sudah ada DED-nya (Detail Engineering Design). Rencananya, pemerintah akan revisi DED tersebut.
"Pada tahun ini kita sudah anggarkan DED Penataan Kawasan Tepian Narosa dan targetnya akhir tahun sudah selesai," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Kuansing Zafnil Helmi kepada GoRiau.com, Selasa (1/8/2017) di ruang kerjanya.
Menurut Zafnil, penataan Tepian Narosa merupakan bagian dari konsep Water Front City sangat memperhatikan aspek lingkungan. Karena itu, pemerintah akan melakukan kajian-kajian supaya konsep tersebut benar-benar matang.
"Tepian Narosa ini akan menjadi wajah dari Kabupaten Kuansing. Kuansing sangat cocok menerapkan konsep Water Front City, apalagi Sungai Kuantan merupakan pusat kebudayaan," papar Zafnil.
Pengembangan kawasan Tepian Narosa, lanjut Zafnil, merupakan perwujudan misi Kabupaten Kuansing untuk mengembangkan perekonomian masyarakat yang mandiri dan berdaya saing guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat berbasis pertanian dan pariwisata.
"Tepian Narosa akan menjadi pusat kegiatan masyarakat, bisa untuk kegiatan olahraga, menyantap kuliner sembari menikmati sungai sampai pada kegiatan-kegiatan sosial dan seni," papar Zafnil.
Hal itu selaras dengan misi Provinsi Riau yakni meningkatkan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta pariwisata. Tentunya, sejalan dengan program Nawacita atau sembilan agenda pembangunan nasional.
Untuk mengimplementasikan misi tersebut, Kabupaten Kuansing pada tahun 2017 ini akan fokus pada pengembangan perekonomian masyarakat melalui peningkatan infrastruktur, pariwisata, agribisnis dan kemandirian desa. Di samping itu, tetap berupaya mengatasi berbagai permasalahan pembangunan yang belum terselesaikan pada periode sebelumnya.
"Infrastruktur pariwisata ini sangat penting guna menunjang kemajuan pariwisata Kuansing. Masih di sekitar Kota Telukkuantan, Kuansing juga akan membenahi Hutan Kota Pulau Bungin," kata Zafnil.
Perencanaan pembangunan fasilitas penunjang pariwisata Kuansing tak hanya tertuju pada pacu jalur saja. Sebab, Kuansing juga memiliki keindahan alam yang tak kalah dengan daerah lain.
Sebut saja Air Terjun Guruh Gemurai di Desa Kasang Kecamatan Kuantan Mudik. Objek wisata ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, apalagi sejak infrastrukturnya sudah bagus.
Kini, Pemkab Kuansing juga fokus pada Air Terjun Tujuh Tingkat Batangkoban di Hulu Kuantan. Menurut Zafnil, pemerintah akan membangun dermaga, tangga beton dan semenisasi jalan menuju objek wisata tersebut.
"Nah, jalan lintas Jake sampai ke Kasang juga perlu diperbaiki. Sebab, jalan tersebut melintasi objek wisata alam Kuansing. Untuk pembiayaannya, kita akan kejar dana provinsi," tegas Zafnil.
Agar semua program pembangunan tersebut berjalan dengan lancar, Zafnil mengharapkan dukungan dari seluruh masyarakat Kuansing. Terutama, masyarakat yang berada di sekitar objek wisata.***