PEKANBARU - Provinsi Riau akan kembali memasuki musim kemarau pada Juni 2017 nanti. Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) pun bersiap-siaga mengantisipasi munculnya titik api, imbas dari kebakaran lahan dan hutan (Karlahut). Bahkan lima helikopter dari BNPB pusat sudah disiagakan.

Kepala BPBD Riau Edwar Sanger mengatakan, pihaknya perlu mewaspadai iklim di Riau saat sekarang ini. Sebab prediksinya, cuaca tahun 2017 hampir sama seperti 2015 lalu, di mana terjadi bencana kabut asap parah yang dipicu kebakaran lahan dan hutan (Karhutla, red).

"Kondisi cuaca tahun ini hampir sama seperti kejadian tahun 2015, di mana arah angin dari selatan ke utara dan lebih membelok ke tenggara. Kalau terjadi Karhutla di tempat kita, dikhawatirkan asapnya bisa ke negara tetangga," katanya saat diwawancarai GoRiau.com (GoNews Grup), Minggu (28/5/2017) siang.

Sebab itu Satgas mulai mengoptimalkan langkah-langkah pencegahan dan antisipasi, termasuk menempatkan lima helikopter untuk pemadaman via udara, ditambah satu helikopter Super Puma TNI AU Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru untuk keperluan patroli udara.

"Seluruh Satgas kita optimalkan, dan kita juga sudah menetapkan status siaga darurat hingga 30 November 2017 nanti. Mudah-mudahan tidak terjadi kabut asap," sambung Edwar di hanggar lengkung Lanud Roesmin Nurjadin, saat meninjau langsung kedatangan helikopter water bombing yang tiba Minggu siang tadi.

Lima helikopter tersebut, lanjut dia, akan ditempatkan dibeberapa kabupaten/kota di Provinsi Riau. "Kita bagi tiga, ada yang ditempatkan di Dumai untuk pemadaman di daerah pesisir, di Japura untuk wilayah selatan dan satu lagi di Kota Pekanbaru. Mudah-mudahan maksimal," harapnya.

Pada 2015 silam, Riau sempat dibuat 'babak belur' akibat bencana kabut asap. Perekonomian sempat lumpuh sementara waktu, di mana bandara tidak dapat beroperasi maksimal. Ini diperburuk dengan kualitas udara yang membuat masyarakat terserang penyakit, khususnya pernafasan.

Tidak cuma itu saja, sekolah-sekolah juga sempat diliburkan saat itu. Kabut asap tahun 2015 itu bukan hanya ditimbulkan akibat dari kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Riau saja, melainkan juga asap kiriman dari daerah lain, akibat tiupan angin. ***