SOLO - Jumlah pengangguran di Indonesia terus meningkat, bahkan termasuk yang lulusan perguruan tinggi. Pengangguran terus bertambah seiring wisuda mahasiswa tingkat sarjana dan diploma setiap tahun.

Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Ida Fauziyah menyebut, perguruan tinggi menyumbang rata-rata 1,2 juta pengangguran per tahun. ''Di rata-rata, sumbangan pengangguran dari perguruan tinggi setiap tahunnya ada 1,2 juta orang,” terang Ida Fauziyah saat memberikan paparan di kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Solo, Rabu (25/10/2023) lalu.

''Memang agak ironi ini. Justru dunia kerja didominasi dari mereka yang lulusan SMP ke bawah,” imbuh Ida Fauziyah.

Merujuk data menaker, tingkat pengangguran di tanah air sekira 5,54 persen atau 7,9 juta penduduk. Angka tersebut diklaim menaker menurun dibandingkan saat pandemi yang mencapai 7 persen.

Diungkapkan menaker, skill dan kompetensi menjadi kunci mengurangi jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi. ''Para lulusan perguruan tinggi harus bekerja keras dan cerdas,” tegasnya.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah Bhimo Widyo Andoko menambahkan, perguruan tinggi harus punya inovasi.

Salah satunya melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), perguruan tinggi bisa mewujudkan lulusan yang siap menjawab tantangan zaman.

''Mahasiwa harus mengasah keterampilan dan kompetensinya. Punya skill di berbagai bidang,” pesan Bhimo Widyo Andoko.

Tak kalah pentingnya membangun jaringan dengan rekan sejawat, alumni, dan elemen lainnya. “Jadilah entrepreneur dengan memulai bisnis atau usaha kecil mandiri. Jangan takut mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif,” pungkas Bhimo Widyo Andoko. ***