
JAKARTA -- Virus corona keturunan terbaru varian omicron yang disebut BA2 dikabarkan sudah ditemukan setidaknya di 40 negara.
BA2 ini dijuluki varian siluman alias stealth variant karena secara luas dianggap lebih tersembunyi daripada versi asli omicron. Sifat genetik tertentu membuatnya agak sulit dibedakan dengan cepat dari delta melalui tes PCR karena apa yang dikenal sebagai ''kegagalan target gen S (S gene target failure)''. BA2 tidak memiliki kekhasan genetik yang sama dengan omicron awal hingga bisa terlihat seperti delta pada pengujian.
''Bukannya tes PCR tidak mendeteksinya, hanya saja BA2 tidak terlihat seperti omicron. Jangan sampai kesannya 'siluman omicron' itu artinya kita tidak bisa mendeteksinya. Semua tes PCR kita masih bisa mendeteksinya,'' kata dr Wesley Long selaku ahli patologi di Houston Methodist Texas, Amerika Serikat, yang telah mengidentifikasi tiga kasus BA2, dilansir AP, Rabu (26/1/2022).
Ternyata, varian siluman ini juga sudah masuk ke Indonesia, hal itu diungkapkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam acara temu media, pada Kamis (27/1/2022) kemarin.
''Sekarang kalau pertanyaannya sudah ada belum (omicron) BA2 di Indonesia? Sudah ada. Kita sudah deteksi mungkin sekitar 10 dari 1.600 (sampel),'' kata Menkes Budi, seperti dikutip dari Liputan6.com.
Di sisi lain dalam satu kesempatan, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Profesor Wiku Adisasmito menjelaskan bahwa varian Omicron berdasarkan susunan genetiknya, di kategorisasi menjadi B11529, BA1, BA2 dan BA3.
"Omicron BA2 tengah menjadi perhatian karena memiliki mutasi yang dapat menyebabkan perbedaan hasil PCR,'' jelasnya mengutip situs resmi Satgas Covid-19.
Pada subvarian omicron lain, adanya mutasi berupa hilangnya susunan tertentu pada Gen S dapat memunculkan deteksi gen lainnya. Namun gen S tidak terdeteksi (SGTF) pada tes PCR.
Namun pada omicron BA2, susunan ini tidak hilang sehingga PCR tidak memunculkan hasil SGTF atau hasilnya sama dengan varian lain yang bukan omicron.
''Padahal BA2 merupakan salah satu jenis Omicron,'' jelas Wiku lebih lanjut.
Lalu bagaimana dengan tingkat keparahan virus corona varian omicron dengan subvarian BA2?
Dalam keterangannya, Menkes Budi mengatakan dirinya belum melihat risiko subvarian BA2 lebih berbahaya dengan suvbarian omicron lainnya, atau bahkan varian virus corona lain.
''Sejauh ini kita belum lihat seperti itu (lebih parah). Kalau teman-teman ada risetnya bisa kasih (pemerintah). Tapi kalau ada yang bilang ini (BA2) menyerang upper respiratory tract infections, pernapasan atas, memang omicron menyerang (pernapasan) atas bukan ke paru,'' pungkas Menkes Budi.***