PEKANBARU – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali menjadi keluhan masyarakat di sejumlah daerah di Riau dan wilayah Sumatera. Antrean kendaraan di sejumlah titik pengisian BBM bahkan disebut mengular hingga berkilo-kilometer, membuat pengemudi harus menunggu berjam-jam.

Kondisi tersebut tidak hanya menguras waktu dan tenaga masyarakat, tetapi juga berpotensi menghambat aktivitas transportasi, distribusi barang hingga perputaran ekonomi.

Sejumlah kendaraan angkutan bahkan terpaksa berhenti lama karena tidak mendapatkan pasokan solar. Ketika BBM tidak tersedia, kendaraan yang seharusnya mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat pun tidak dapat beroperasi.

Kondisi serupa turut dirasakan para nelayan. Untuk mendapatkan solar sebagai bahan bakar melaut, mereka disebut harus mengantre cukup panjang. Kebutuhan yang sebenarnya tidak banyak, bahkan hanya beberapa jeriken, tetap harus diperjuangkan dengan menunggu berjam-jam.

Situasi ini dinilai miris terjadi di Riau, daerah yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil minyak dan gas bumi penting di Indonesia.

Ironisnya, daerah yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu penopang sektor migas nasional justru menghadapi persoalan mendapatkan BBM untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Ini suatu yang miris. Riau adalah penghasil minyak yang selama ini menopang perekonomian Indonesia. Tetapi hari ini masyarakat justru harus menghadapi antrean panjang hanya untuk mendapatkan solar,” kata Ketua Umum Majelis Rakyat Riau (Marari), H Asri Auzar SH, MSi, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Asri, antrean panjang tersebut bukan sekadar persoalan masyarakat harus menunggu BBM. Di balik kendaraan yang mengular di SPBU, terdapat aktivitas ekonomi yang ikut tertahan.

Sopir angkutan tidak dapat bekerja secara maksimal, distribusi barang berpotensi tersendat, sementara nelayan harus menunda keberangkatan untuk mencari nafkah.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa solusi yang jelas, dampaknya dikhawatirkan semakin meluas terhadap perekonomian masyarakat.

Masyarakat pun mempertanyakan langkah pemerintah dan para pemimpin daerah dalam mengatasi persoalan tersebut. Mereka berharap persoalan distribusi dan ketersediaan solar tidak hanya dipandang sebagai masalah teknis BBM, tetapi sebagai persoalan yang menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat.

“Jangan berharap perekonomian Indonesia akan baik kalau persoalan seperti ini terus terjadi dan tidak diselesaikan dengan baik. Ini menjadi kekhawatiran yang mencuat di tengah masyarakat,” ujarnya.

Asri berharap pemerintah segera mencari akar persoalan kelangkaan solar, memastikan distribusi berjalan lancar, serta memberikan perhatian khusus kepada sektor transportasi dan nelayan yang sangat bergantung pada BBM bersubsidi.

Menurut mantan anggota DPRD Riau tersebut, ketika kendaraan angkutan berhenti dan nelayan tidak bisa melaut hanya karena kesulitan mendapatkan solar, dampaknya bukan lagi sekadar antrean di SPBU.

“Persoalannya bisa merembet menjadi persoalan distribusi, pendapatan masyarakat hingga stabilitas ekonomi daerah,” tegasnya.

Riau sebagai salah satu daerah penghasil migas tentu berharap persoalan ketersediaan BBM bagi masyarakat segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

“Jangan sampai daerah yang kaya sumber daya justru membuat masyarakatnya harus berjuang berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar,” pungkasnya. ***