MASYARAKAT Riau berduka. Hari Ahad (14 Agustus 2022) pukul 19.46 WIB, di Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru, telah wafat salah seorang putra terbaik Riau, Prof. Dr. dr. Tabrani Rab, Sp.P, dalam usia 81 tahun.

Memang cukup lama Ongah Tab -panggilan akrabnya- terbaring membisu di kediaman Dr. dr. Susiana Tabrani, M.Pd. di Perumahan The Sentosa Gobah blok A11, Jl. Dwikora, Sukamaju, Sail, Pekanbaru.

Kabar wafatnya Tabrani diunggah pertama kali oleh Dr. Susi lewata kun Facebook dan media sosial lannya. Kabar itu saling berimbauan sehingga merata di kalangan masyarakat.

Di saat jenazah Presiden Riau Merdeka mau dishalatkan di Masjid At-Tabrani, Jalan Bakti, Pekanbaru usai shalat Dzuhur, ratusan jamaah tumpah-ruah. Sejumlah tokoh Riau pun berdatangan dan ikut shalat sekaligus melepas kepergian tokoh terkemuka Riau tersebut saat dimakamkan tak jauh dari halaman Masjid At Tabrani di kawasan Susiana Tabrani Convention Center yang luas itu.

Perkenalan saya dengan Pak Tab -begitu saya memanggilnya- sejak kuliah di Faperi Universitas Riau (Unri) tahun 1979. Tabrani yang dokter itu merupakan salah seorang dosen yang pernah mengajar saya dan kawan-kawan seangkatan untuk mata kuliah dasar Biokomia Umum, Fisiologi Ikan dan beberapa mata kuliah lain. Nama Tabrani sudah cukup populer pada masa itu sebagai dokter yang suka menolong orang-orang susah saat berobat di RS Tabrani, Jalan Sudirman Pekanbaru.

Sebagai dokter, Pak Tab sangat ramah sehingga pasien-pasien berduit yang umumnya orang Tionghoa begitu menyukainya. Pendekatan budaya Tabrani yang juga jago berbahasa Tionghoa Hokian membuat orang-orang Tionghoa yang berasal dari kampung kelahiran Tabrani, yakni Bagansiapi-api (kini menjadi ibukota Kabupaten Rokan Hilir) menjadi pasien langganannya.

Pejuang yang Mengangkat Marwah Melayu

Pak Tab di mata saya bisa sebagai guru (dosen), orangtua, narasumber bahkan juga sebagai sahabat. Keakraban kami cepat terwujud karena dia tahu bahwa saya seorang penulis sastra dan artikel serta sudah jadi wartawan LKBN Antara di Pekanbaru tahun 1979 dalam usia yang sangat muda.

Di luar soal kuliah, saya bisa berbincang dengan Pak Tab soal apa saja, terutama politik, seni budaya dan dunia intelektusl. Sering perbincangan kami berujung menjadi pernyataan berita yang saya naikkan di media lokal yang terbit di Riau, bahkan nasional.

Sejak tahun 1981 saya menjadi koresponden majalah berita Topik (grup Kelompok Media Merdeka yang didirikan tokoh pers BM. Diah dan istrinya Herwati Diah). Tahun 1983 saya pun juga jadi wartawan majalah Islam, Panji Masyarakat, yang didirikan oleh tokoh Islam, Buya Hamka, yang sangat masyhur masa itu.

Bahkan saya pernah menulis di tahun 1985-an profil dr. Tabrani Rab di majalah Islam terkenal itu dengan judul ''Tabrani Rab: Obor Melayu yang Tak Kunjung Padam''.

Di mata saya spirit Islam dan Melayu dalam diri Pak Tab begitu kuatnya. Ayahnya, Abdurrab bin Said, merupakan seorang ulama dan pendiri Muhammadiyah di Riau. Dia juga seorang tokoh Melayu yang sangat menjunjung semangat ke-Melayuan sepanjang hidupnya. Begitu pula istrinya (ibu kandung Tabrani), Zaenab binti Syukri, juga seorang tokoh perempuan Islam dan sangat Melayu. Kedua orangtuanya berasal dari Siak Sriindrapura. Tabrani lahir di Bagansiapiapi 30 September 1941.

Pak Tab dididik dan dibesarkan dalam keluarga fanatik beragama dan selalu menjunjung nilai dan Marwah Melayu. Jangan heran bila Pak Tab sangat peduli dengan perkembangan organisasi Islam, menghormati para ulama dan terus memperjuangkan nasib dan marwah orang-orang Melayu sepanjang usianya. Bahkan puluhan buku mengenai ke-Melayuan, kedokteran, dan politik sudah ditulisnya menjadi isi perpustakaan berbagai lembaga.

Fanatik ke-Islaman Pak Tab diwujudkannya lewat logo RS Tabrani Rab yang dipergunakan bukan simbol Palang Merah yang lazim melainkan bulan sabit merah dengan huruf Arab yang sangat Islami. Begitu pula Pak Tab mendirikan Lembaga Studi Sosial Kebudayaan Melayu yang banyak menggelar seminar dan diskusi tentang Islam dan ke-Melayuan.

Pak Tab menjadikan pujangga terkenal Indonesia, Soeman Hs, sebagai ayah angkatnya dan mendukung penuh aktivitas Soeman dalam bidang sosial budaya dan ke-Islaman.

Semasa hidup Soeman, tiap tahun Pak Tab merayakan hari jadi pujangga masyhur Indonesia itu di hotel berbintang yang dihadiri Gubernur Riau pada masa pengabdiannya masing-masing, mulai Gubernur Kaharuddin Nasution, Arifin Achmad, Soebrantas, Imam Munandar, Soeripto, hingga Saleh Djasit.

Pak Tab sangat peduli pada dunia seni-budaya, tak perlu diragukan lagi dengan seringnya dia diundang menjadi pembicara dalam pertemuan budaya dan sastra internasional, kawasan serumpun Melayu dan Indonesia pada umumnya.

Kepedulian pada Bidang Sosial Budaya

Pengembangan sosial budaya di Tanah Melayu Riau, benar-benar jadi perhatian Pak Tab. Dia pernah melakukan Pelatihan Anak-anak Suku Asli di Riau, seperti Sakai, Bonai, Talangmamak, Suku Laut dan lain-lain, dengan pola culture shock (keterkejutan budaya) dengan mengenalkan pada mereka secara dadakan berupa teknologi modern seperti berkeliling naik pesawat, lift, eskalator dan ruang ber-AC.

''Saya berharap dengan mengalami hal-hal modernisasi secara spontan itu akan menimbulkan reaksi berpikir mereka tentang hal-hal kemudahan dalam hidup mereka. Tapi pelatihan ini gagal. Sebab dari 50 peserta tersebut hanya bersisa belasan karena mereka kabur satu-satu, tak kuat menghadapi teknologi modern tersebut,'' cerita Tabrani kepada saya puluhan tahun silam itu.

Pak Tab tak pernah berhenti memberikan kepedulian pada nasib suku asli di Tanah Melayu Riau ini. Bahkan salah seorang putra Sakai, Muhammad Agar terus dibimbingnya secara langsung hingga Agar menjadi anak angkat Dr. Hans Kalipke -seorang ahli matematika asal Jerman yang pernah bertahun-tahun hidup bersama orang Sakai di pedalaman Kandis dan Duri, Kabupaten Bengkalis.

Terakhir saya dipertemukan Pak Tab dengan Agar untuk sebuah wawancara di Pekanbaru saat Agar pulang kampung bersama Dr. Kalipke. Waktu itu Agar sedang menyelesai kuliah magisternya di Jerman. Tentu sekarang Agar sudah bergelar doktor juga sebagaimana dijanjikan Kalipke di awal tahun 1990-an itu.

Berbincang dan Curhat Soal Banyak Hal

Saya menamatkan kuliah tahun 1985. Namun kedekatan saya dengan Pak Tab terus berlangsung. Pak Tab bagi saya tidak hanya menjadi dosen (guru), orangtua, tokoh tapi juga sebagai teman berbincang dan curhat. Rasanya banyak sekali hal-hal yang bersifat pribadi diluahkan Pak Tab kepada saya.

Semasa saya belum berkeluarga dan tinggal bersama kedua orangtua (ayah saya, Buya Mansur Abdul Jabbar dan ibu Hj. Aminsuri Wahidy), sekretaris pribadi Pak Tab, Abdul Munir -yang juga teman kelas waktu SMAN No. 1 Bengkalis- sering datang ke rumah malam-malam untuk menjemput saya. ''Nas..Nas...Pak Tab manggil,'' ucap Munir saat mengetuk pintu rumah.

Orangtua saya pun bisa memaklumi dan saya pun pergi dengan mobil, baik sedan Galant warna putih atau mobil ambulans. Sudah terbiasa, waktu dijemput masih di bawah pukul sepuluh malam dan nanti diantar pulang sudah larut malam.

Begitu sering saya 'disandera' Pak Tab di ruang praktik dokternya. Saya duduk di sebelah kursi pasien sambil berbincang tentang masalah sosial, budaya dan politik di sela-sela Pak Tab melayani pasien. Apabila pasiennya banyak, saya ditempatkan di kamar istirahatnya di RS Tabrani yang disuguhi buku-buku menarik, makanan dan minuman. Nanti setelah praktik dokter usai, kami pun pergi berkeliling kota atau makan malam sambil berbincang.

Berbagai masalah pribadi diceritakan Pak Tab kepada saya. Pernah di suatu siang, Pak Tab mengajak saya naik sedan Galant-nya sambil curhat suatu persoalan pribadi yang dihadapi terkait masalah rumah tangganya. Saya diajak makan siang di rumah makan Mitra Sari di Pekanbaru -rumah makan Padang yang sangat terkemuka masa itu. Pak Tab mengambil ruang VIP yang di dalamnya terdapat enam meja. Pak Tab membooking seluruh ruangan itu dan Lebih dari tiga jam saya mendengarkan curhat Pak Tab.

Saya sering pula diajak berkeliling naik mobil berdua sambil ngobrol. Kadang saya diajak mampir di rumah ibunya, Bunda Zainab, yang sudah berusia tua dan makan siang di situ. Kadang kami melihat RS Tabrani di Jalan Riau Ujung- kini sudah berubah menjadi Universitas Abdurrab yang dikelola oleh Dr. Susiana Tabrani.

Tapi yang paling sering, saya diajak ke rumah kediaman Pak Tab di perumahan dosen Unri, Jalan Pattimura No. 1 Gobah, yang kini menjadi Perpustakaan Universitas Rab. Di rumah ini saya sering diajak makan. Waktu itu anak-anak Pak Tab, yakni Diana, Susiana dan si bungsu Ivan -ketiganya kini menjadi dokter- masih kecil.

Saya jadi ingat, di rumah itulah Pak Tab mendeklarasikan Riau Merdeka yang mendapat liputan luar biasa dari media nasional dan media internasional. Saat mau dideklarasikan, Pak Tab benar-benar menjadi incaran aparat keamanan, baik kepolisian, tentara maupun para intel.

Pada malam menjelang deklarasi itu, sekitar pukul 00.00 WIB, Pak Tab memanggil saya. Di rumah itu sudah puluhan mahasiswa yang umumnya aktivis HMI dan sejumlah tokoh Riau, di antaranya cendekiawan Fauzi Kadir -kini dipercaya menjadi Ketum Partai Ummat yang juga didukung putri Tabrani, dr. Diana. Kami berada di sana sampai larut malam.

Setelah mengalami 2-3 kali pindah tempat, keesokan harinya Pak Tabrani di ruang depan kediamannya itu membacakan Deklarasi Riau Merdeka. Pak Tab tampil dalam pakaian putih-putih yang lazim dikenakan dokter. Disaksikan ratusan orang dari berbagai kalangan, terutama wartawan. Seingat saya, setelah deklarasi tersebut, Pak Tab diwawancarai lewat telepon oleh sejumlah media asing.

Terkait soal Riau Merdeka itu, Pak Tab memang sangat diinspirasi oleh kedekatannya dengan tokoh Aceh Merdeka, Dr. Hasan Tiro di Swedia. Sering Pak Tab bercerita kepada saya bahwa beberapa kali dia bertemu Hasan Tiro di luar negeri.

Kata Pak Tab, Hasan Tiro pernah bilang kepadanya, kalau perjuangan Riau Merdeka itu mau mendapat perhatian dunia, harus ada martir (korban nyawa). Bawalah seribu orang dari Riau mengepung istana. Dan apabila ada korban jiwa, itulah momen penting yang menjadi puncak perjuangan. ''Tapi saya tak sanggup melakukannya karena yang jadi korban rakyat Riau sendiri,'' cerita Pak Tab kepada saya suatu ketika.

Selain itu dalam Peristiwa 2 September Tahun 1988 yang memenangkan Ismail Suko (ayahanda Septina Primawati, mertua HM. Rusli Zainal) mengalahkan Imam Munandar dalam Pilgub di DPRD Riau, Pak Tab juga ikut berperan. Ada anggota dewan, H. Thamrin Nasution dan belasan anggota yang lain sangat menentukan peristiwa politik yang menjadi gaduh nasional itu.

Terbaring Sakit dan Membisu

Prof. Dr Tabrani Rab mengalami sakit dan terserang stroke sehingga harus terbaring di rumah Dr Susiana. Di tempat tidur, Tabrani hanya membisu. Tak bisa berkata-kata. Siapa pun kerabatnya yang datang dari kalangan tokoh negeri Jiran, nasional dan Riau sendiri, Pak Tab hanya menatap. Di antara kerabat yang belum berkunjung adalah Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Prof. Alfitra Salamm dan sejumlah seniman Riau yang sengaja diundang Dr. Susi untuk memberikan doa dan silaturahim antara lain Dr. Husnu Abadi, A. Aris Abeba, Dr. Herman Rante, Tien Marni, Kunni Masrohanti dan saya sendiri serta masih banyak yang lain.

Susi selalu merayakan hari jadi Pak Tab di kediamannya dengan mengundang para tokoh masyarakat dan kerabat dekatnya. Tahun lalu perayaan hari jadi Pak Tab digelar saat berusia ke-80 tahun 2021. Ucapan selamat ulang tahun pun disampaikan keluarga dan kerabat. Putri Prof Dr Tabrani, Susiana Tabrani mengunggah ucapan dan sejumlah foto pria yang dikenal kerap mengenakan baju berwarna putih tersebut. 

''Papa Sayang. We Love You Very Much Indeed. Ayahanda Milad ke-80 hari ini, 1941-2021,'' tulis Susiana di akun Facebooknya.

Selamat jalan, Pak Tabrani. Riau dan Indonesia akan selalu mengenangmu. ***

Fakhrunnas MA Jabbar adalah dosen UIR, jurnalis, sastrawan dan budayawan, tinggal di Pekanbaru.