
PEKANBARU, GORIAU.COM - Sejumlah anggota DPRD Kota Pekanbaru melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah Puskesmas di Pekanbaru, Senin (9/3/2015) malam. Para wakil rakyat tersebut ingin memastikan apakah program Puskesmas 24 jam yang digagas Pemprov Riau dan Pemko Pekanbaru berjalan sesuai dengan yang diinginkan masyarakat.
Sidak yang dipimpin langsung Ketua Komisi III Nofrizal tersebut mendapati bahwa program tersebut tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Karena tidak semua Puskesmas bisa memberikan pelayanan non-stop tersebut.
Untuk Puskesmas Senapelan yang berada di Jalan Jati (samping Hotel Mutiara), Nofrizal bersama Anggota Komisi III, Jhon Romi Sinaga, Fikri Wahyudi Hamdani, dan Aidil Amri dibuayt bingung. Pasalnya Puskesmas yang sempat menjadi percontohan di Kota Bertuah tutup total.
"Katanya melayani 24 jam, tapi mengapa Puskesmas Senapelan ini tutup total," ujar Nofrizal.
Sidak ini dimulai pukul 23.00 WIB berlangsung hingga dinihari Selasa (10/3/2015). Sementara di Puskesmas Simpang Tiga terlihat ada aktivitas. Tenaga medis dan pasien ada dirawat inapnya. Hanya butuh penerangan lebih agar diketahui.
Kemudian sama halnya dengan Puskesmas Poned Sidomulyo Tampan, suasana juga masih gelap karena kekurangan penerangan, ada tenaga medisnya. Lalu rombongan menuju Puskesmas Sidomulyo di Jalan HR Soebrantas, kondisi pagar depan ditutup, dan pintu Puskesmas pun ditutup.
Nofrizal bersama anggota Komisi lainnya pun mencoba untuk memastikan dengan mengetuk-ngetuk pintu, dan ternyata ada petugas, hanya saja untuk mendapatkan layanan harus begitu. Dan terakhir di Puskesmas Senapelen, kondisinya tutup total.
Pada intinya, mengapa layanan tidak maksimal, petugas mengeluhkan soal kekurangan pengamanan, dan juga fasiltas puskesmas dan juga SDM. Â Â
"Fasilitas masih banyak yang kurang, seperti toilet, perlengkapan masih banyak perlu penambahan. Begitu juga dengan gedungnya, kondisinya kurang representatif, kalah dengan klinik-klinik swasta apalagi rumah sakit ‎swasta," sebut Politisi PAN ini.
Untuk Puskesmas Senapelan, disebutkan Nofrizal,  kondisinya sama sekali tidak buka, penjaga malam tidak ada, petugas tidak ada, kondisinya tutup total, walaupun lampunya masih hidup. "Ini tidak mencerminkan puskesmas rawat inap ataupun puskesmas 24 jam. Ini perlu ada evaluasi yang lebih menyeluruh untuk seluruh puskesmas yang ada di Pekanbaru oleh Dinas Kesehatan," tegasnya.Â
Apalagi puskesmas yang ada di pinggiran. "Untuk hari ini kami coba sidak puskesmas yang berada di tengah kota, dan berharap untuk puskesmas di pinggiran itu kami juga akan sidak dalam waktu yang tidak ditentukan, berharap tidak seperti ini lagi. Artinya kalau memang ada instruksi untuk buka 24 jam, ya harus dibuktikan," ungkapnya.Â
Hal senada juga disampaikan Jhon Romi Sinaga, dengan apa yang sudah dilihatnya saat sidak ditegaskannya bahwa instruksi soal layanan 24 jam ini Pekanbaru belum bisa. "Pastinya ini belum siap fasilitas, keamanan juga. Ini banyak menjadi alasan puskesmas yang kami sidak, pegawai dinas malam ketakutan alasannya‎ karena penerangan, keamanan di puskesmas tidak memadai itu harus disiapkan dulu. Ini harus menjadi perhatian," tambahnya.
Sementara itu, Anggota Komisi lainnya, Aidil Amri menilai bahwa Kepala Dinas Kesehatan sudah berbohong. "Dinas Kesehatan itu berbohong kepada DPRD, khususnya komisi III. Karena bahasanya semua puskesmas itu sudah 24 jam, ternyata dari sidak ini itu hanya beberapa yang beroperasi, dan sisanya itu pembohongan. Kalau memang belum siap mengapa disebutkan kemarin, ini tujuan kami sidak," tegasnya.
Begitu juga dengan Fikri Wahyudi Hamdani, dia melihatnya, untuk bangunan gedung puskesmas sudah bagus, peralatan cukup, obat-obatan cukup, memang yang kekurangan itu tenaga pengamanan malam, SDM, tenaga dokter.
"Saran saya, para tenaga dokter, perawat maupun bidan, ini refresh atau dilakukan roling dari satu puskesmas ke puskesmas yang lain. Untuk ada penyegaran, dan tidak ada kesan bosan. Mungkin dengan kondisi ini bisa membuat puskesmas lebih baik," sarannya.
Soal kesejahteraan pegawai, ada yang masih digaji rendah dia minta untuk di carikan solusi. "Soal kesejahteraan ini, kami sampaikan kepada dinas tenaga kerja, dan juga dinas kesehatan, masih ada tenaga kesehatan yang di gaji 300 ribu, dan ini sangat tidak pantas, ini harus dicarikan solusinya," harapnya.
Sementara itu kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Helda S Munir, menyebutkan soal Puskesmas yang buka dan tutup total, ini menjadi bahan evaluasinya kedepan.
"Intinya instruksi sudah sesuai dengan arahana wali kota Pekanbaru, dimana mengacu ke surat edaran gubernur melaksanakan pelayanan 24 jam pertanggal 27 januari 2015. Kendati pun permasalahan dilapangan menjadi evaluasi dinas kesehatan kota Pekanbaru, berkaitan dengan kekurangan SDM dan juga fasilitas-fasilitas yang ada dan mendukung," tuturnya.
Dimintanya, teman-teman di Puskesmas itu berbuatlah dahulu semampunya, tidak bisa sampai subuh hendaknya sampai malam, jangan langsung tutup total begitu. "Saya juga sudah minta kepada Sekretaris dinas untuk melakukan sidak dan juga pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan dilapangan. Kalau yang tutup itu tentu akan menjadi bahan pertanyaan bagi kami, apa alasannya tutup? Mestinya bisa memenej minimal ada usaha dari mereka," katanya.Â
"Sebenarnya bukan tidak mampu memenej intruksi ini, soalnya saat ini kepala puskesmas itu banyak yang senior-senior yang susah untuk berubah. Nyatanya mereka bisa jaga malam di Awal Bros, dijaganya praktiknya masing-masing, tapi giliran tugas pokok mereka seperti ini, saya juga kecewa kalau tidak mampu melakukan koordinasi," tutupnya.***