
PEKANBARU, GORIAU.COM - Tindakan penganiayaan terhadap Nurhasmi, yang dilakukan istri Bupati Kampar, Riau, Eva Yuliana dan ajudannya di hadapan sang Bupati Jefry Noer sungguh tidak bisa ditolerir. Tindakan itu tak perlu dicontoh oleh pemimpin dimana pun khususnya para pejabat di Riau.
''Seharusnya Jefri Noer meniru Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang membawa beras saat datang ke rakyatnya, bukan malah memukulinya. Ini harus diberi tindakan hukum, jangan dibiarkan, ini pengalaman buruk yang akan dicontoh generasi muda Riau jika tidak diproses secara hukum,'' ujar Direktur Badan Advokasi Publik Riau, M Rawa El Amady kepada GoRiau.com, Rabu (4/6/2014).
Menurutnya, seorang pemimpin harus memahami kondisi rakyatnya, bukan menurutkan pikirannya sendiri. Rakyat butuh lahan untuk bertanam dan menyambung kehidupannya bukan untuk memperkaya diri, jadi wajar saja sejengkal lahan akan dipertahankan. Ini menyangkut hidup.
''Coba Jefry Noer bersikap seperti Bu Risma, asal turun menjumpai rakyatnya bawa beras. Kalau itu yang dilakukan, rakyat akan senang dan menghormati pemimpinnya, bukan malah memukulinya,'' tegasnya.
''Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa 10 tahun ke depan jumlah kemiskinan di Kampar akan meningkat tajam, karena tanah untuk berladang berkurang termasuk kebun sawit dan karet karena dijual untuk biaya hidup dan sekolah anak-anak,'' urainya.
Disisi lain, tindakan pemukulan yang dilakukan oleh Wakil Ketua DPRD Kampar, Eva Yuliana dan ajudannya dihadapan Bupati Kampar Jefry Noer mencerminkan sikap preman dan memelihara premanisme. ''Seorang bupati harusnya menjadi pelindung rakyat bukan memukuli rakyat,'' jelasnya.
Jefri menurut pengamatan Rawa El Amady, masih memerintah seperti zaman orde baru, padahal dunia sudah berubah. ''Dulu hubungan pemerintah dengan rakyat satu arah, rakyat harus melayani bupati. Tapi sekarang sudah berubah,' jelasnya.
''Kasus penganiayaan seperti ini harus dibawa ke ranah hukum. Hukumannya sesuai dengan pasal penganiayaan. Jika Jefri dihukum maka secara otomatis dia berhenti jadi bupati,'' ungkapnya.
Namun Rawa sendiri tidak yakin Polres Kampar berani mengusutnya, kalaupun berani pasti Jefry Noer tetap diuntungkan. Untuk itu Polres Kampar harus menjadikan momen ini sebagai bukti kalau Polres Kampar sudah berubah dan tidak lagi dibawah tekanan Jefry Noer. ***