
DURI - Pabrik tapioka yang digadang-gadangan oleh mantan Camat Mandau, H Hasan Basri, nampaknya akan menjadi kenyataan. Hal itu terbukti dimana lokasi lahan pembangunan pabrik tapioka dengan kapasaitas pengolahan singkong 25 ton per jam, terletak di Desa Boncah Mahang, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Pabrik yang berdiri dilahan seluas 1.000 hektare, dikatakan Direktur Utama PT Asrindo Citra Subur Makmur (ACSM), H Hasan Basri kepada GoRiau.com, Selasa (17/11/2015) malam usai salat isya, dimana baru 100 hektare lahan inti yang diolah. Karena saat ini pabrik membutuhkan lahan plasma yang dikeola oleh masyarakat minimal 2.500 hektare.
"Saya mengajak seluruh masyarakat disekitar Kabupaten Bengkalis, terutama di Kecamatan Mandau dan Pinggir, untuk segera menanam singkong. Saat pabrik tapioka sudah berdiri, bahan baku singkong gajah tidak lagi sulit untuk dicari," katanya.
Kalau pun masa panen tiba, namun pabrik belum berdiri, lanjut Hasan, masyarakat tidak perlu bimbang atau ragu. Karena singkong bisa dibuat gaplek (gaplek merupakan bahan makan khas dari masyarakat di Pulau Jawa, yang terbuat dari singkong, red). Dimana harga jual gaplek masih ekonomis, yaitu diatas Rp3.000. Sementara ongkos kirimnya ke Pulau Jawa, hanya Rp500 per kilogramnya.
"Minggu depan saya akan bertemu dengan pihak perusahaan yang akan menjamin, gaplek hasil dari singkong yang ditanam oleh masyarakat bisa disalurkan. Jadi masyarakat pun aman dan tetap untung," ujarnya.
Untuk pengembangan selain pabrik tapioka, jelasnya, dari hasil pertemuan dengan DR Yadi Ahli Singkong dari Institut Pertanian Bogor (IPB), juga akan didirikan pabrik mokaf. Mocaf merupakan tepung yang terbuat dari singkong, sebagai pengganti gandum. Mocaf sendiri merupakan hasil penemuan dari Prof DR Ahmad, yang berasal dari Jember.
"Untuk merubah singkong menjadi mocaf, dilakukan dengan cara fermentasi. Dimana adanya pemberian enzim pada singkong. Pabrik mocaf sangat ramah lingkungan, karena tidak memiliki limbah. Sesuai dengan saran DR Yadi, pendirian pabrik mocaf sangat layak, seperti di Pulau Rupat dan Pulau Bengkalis. Minggu depan, saya difasilitasi oleh DR Yadi akan melakukan pertemuan dengan Direksi PT Tiga Pilar," ulasnya lagi.
PT Tiga Pilar, imbuhnya, merupakan produsen terbesar mocaf di Indonesia sekarang ini. Jika seandaianya potensi singkong bisa besar, PT Tiga Pilar siap menjadi investor untuk membuka cabang di Provinsi Riau. "Saya sebegai Direktur Utama PT Asrindo Citra Subur Makmur, khusus bergerak dibidang tapioka yang berdiri di Mandau," pungkasnya.
Saat ini kendala yang dihadapinya, lahan yang akan didirikan pabrik tapioka di Desa Boncah Mahang, masuk lahan konversi seluas 5 hektare. Saat ini pihaknya akan mengajukan ke Menteri Kehutanan Republik Indonesia, pelepasan kawasan untuk pabrik tapioka. Karena dilahan itu, dekat dengan sumber air.
"Untuk mengolah 500 ton singkong per hari, dibutuhkan 1.800 kubik air per harinya. Lokasi lahan yang dekat dengan sungai Sebangar, dijadikan sebagai sumber air untuk kebutuhan pabrik tapioka. Dimana sumur bor tidak bisa mencukupi," tutupnya menjelaskan juga, tidak akan mengurus izin lingkungan, sebelum ada surat pelepasan kawasan konservasi dari Menteri Kehutanan RI.***