PEKANBARU – Dinas Kesehatan Provinsi Riau mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman virus Nipah (NiV). Meski hingga saat ini belum ditemukan laporan kasus di Bumi Lancang Kuning, otoritas kesehatan telah memperketat pengawasan di seluruh fasilitas medis sebagai langkah antisipasi dini.
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, menyatakan bahwa meskipun saat ini laporan infeksi masih didominasi dari luar negeri, potensi penyebarannya ke Indonesia tetap harus diantisipasi. Pihaknya pun telah melakukan sosialisasi awal bersama jajaran kepolisian untuk memetakan risiko.
‘’Kemarin kita sudah sosialisasi juga bersama Polda Riau dan masih perlu pendalaman soal virus itu,’’ jelasnya, Minggu (8/2/2026).
Zulkifli menambahkan bahwa Diskes Riau kini tengah menunggu petunjuk teknis (juknis) resmi dari pemerintah pusat terkait manajemen penanganan dan prosedur penapisan kasus. Sambil menunggu regulasi tersebut, pemahaman mengenai tata kelola virus serta cara penularannya terus diperdalam oleh tim medis di daerah.
Untuk meminimalisir risiko, masyarakat diminta untuk disiplin menjalankan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hal ini dianggap krusial mengingat kondisi cuaca yang sedang dalam masa transisi.
‘’Kita minta masyarakat tetap waspada. Tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat, mengonsumsi makanan bergizi, olahraga rutin dan juga memperhatikan kesehatan lingkungan,’’ urainya.
Kewaspadaan ini merujuk pada Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/C/445/2026. Virus Nipah sendiri merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai pembawa alaminya. Selain kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, virus ini bisa menular melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi air liur atau urine hewan, serta kontak antarmanusia.
Gejala yang ditimbulkan cukup beragam, mulai dari demam, nyeri otot, hingga kondisi fatal seperti peradangan otak (ensefalitis). Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4 hingga 14 hari, yang sering kali ditandai dengan gangguan pernapasan dan penurunan kesadaran pada fase yang berat. ***


