PEKANBARU, GORIAU.COM - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memastikan Riau Town Square and Convention Centre (Ritos) di kawasan Purna MTQ Pekanbaru akan dibangun tahun ini. Menurut rencana, Maret 2015 ini pembangunannya akan dimulai.

Ritos merupakan kawasan bisnis berupa hotel, pusat olahraga seperti bowling dan kolam renang, pusat perbelanjaan dan sarana pendukung lainnya tersebut. Segala persiapan juga telah dipersiapkan Pemprov Riau.

Pembangunan sendiri 'full' melibatkan pihak ketiga, PT Bangun Megah Mandiri Propetindi (BMMP) dengan rencana anggaran mencapai Rp1,5 triliun. "Semuanya ditanggung oleh mereka," kata Sekdaprov Riau, H Zaini Ismail.

Ritos dibangun di atas lahan seluas 35 ribu meter persegi yang di dalamnya akan menjadi pusat bisnis seperti mal, hotel 16 lantai, galeri, sarana olahraga dan sarana pendukung lainnya. Pembangunan berbagai sarana tersebut sejatinya dapat didukung.

Pasalnya, pengembangan dilakukan dengan sistem Bangun Guna Serah (BGS) dengan melibatkan pihak ketiga sehingga tidak membebankan APBD. Dengan berbagai persiapan yang ada, maka diyakini Bulan Maret menjadi waktu yang tepat untuk memulai pengembangan Ritos.

"Kita yang akan mendapatkan kontribusi dari pembangunannya, sekaligus memajukan daerah kita," tukas Zaini.

Proyek yang dibangun di kawasan purna MTQ atau Bandar Serai Raja Ali Haji di atas lahan seluas 3,5 hektar ini akan dikerjakan selama tiga tahun. Selama pembangunan itu, dari kerja sama ini, Pemprov Riau tetap mendapatkan keuntungan Rp150 juta per tahunnya.

Selain itu, apabila Ritos sudah dioperasionalkan, Pemprov Riau akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp1,5 miliar per tahunnya. Belum lagi kompensasi 0,2 persen dari setiap ruangan Ritos yang disewa.

Diyakini, pengembangan sarana bisnis itu tidak akan merusak dan mengganggu proses kesenian dan kebudayaan di kawasan Purna MTQ tersebut. Pemprov juga mencari solusi agar sarana dan kawasan yang bernilai historis itu dapat dijaga dan dirawat dengan baik.

Kasubag Inventarisir Aset Setdaprov Riau, Edi Saputra, menyebutkan, keberadaan Ritos dinilai memberikan dampak ekonomis. Pengembangan kawasan bisnis diprediksi dapat menyedot tenaga kerja.

Tidak kurang 5.000 tenaga kerja atau sekitar 75 persen akan direkrut dengan mengutamakan pekerja lokal. Hal ini diketahui dari hasil koordinasi dengan pihak pengembang.

Edi menerangkan, komitmen ini memang sudah menjadi kesepakatan Pemprov dengan pengembang yang berkantor pusat di Jakarta. "Konsultan pembangunan Ritos saat ini merupakan tenaga ahli dari Riau," tukas Edi.

Banyak tenaga kerja lokal yang bisa diberdayakan di kawasan itu. Diantaranya, naker untuk pengamanan, badan pengelola, cleaning service, perparkiran, perawat klinik, karyawan hotel dan lainnya. Tentunya pihak pengembang mencari masyarakat tempatan yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya masing-masing.***