
RAMADHAN 1444 Hijriah baru saja berlalu. Lantunan syahdu insan beriman mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid, menghiasi langit-langit bumi di timur sampai barat. Lantunan tersebut menyentuh kalbu manusia untuk tunduk merendahkan hidupnya hanya kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.
Salah satu yang mendasari insan beriman mengikrarkan kekuasaan Allah SWT di ujung Ramadhan adalah kesadaran bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah, yang tidak pernah terbebas dari dosa dan kesalahan, kemudian dirinya menemukan bagaimana Ramadhan telah menjadi sarana yang disediakan Allah SWT untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya.
Margin of Error Kemanusiaan
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda: "Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat dari kesalahannya". Hadits ini mengingatkan manusia tentang salah satu hakikat kemanusiaannya, yaitu bahwa dirinya adalah makhluk yang tidak pernah luput dari kesalahan.
Jangankan manusia yang hidup saat ini, para sahabat Rasulullah SAW yang mendapatkan julukan generasi terbaik pun tidak luput dari kesalahan. Mereka yang mendapatkan bimbingan langsung dari Rasulullah SAW pun tidak terlepas dari kesalahan dan khilaf. Menjelang penaklukan Makkah, Rasulullah SAW membatasi informasi mengenai strategi penaklukkan Makkah, kecuali hanya kepada beberapa orang sahabat saja. Tapi ternyata, ada seorang sahabat mulia bernama Hatib bin Abi Balta'ah yang sangat khawatir dengan keselamatan familinya di Makkah apabila penaklukkan Makkah itu betul-betul terjadi.
Akhirnya, tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW, Hatib membocorkan informasi rahasia negara tersebut kepada familinya di Makkah melalui seorang kurir. Apa yang dilakukan oleh Hatib tentu adalah kesalahan fatal yang dapat membahayakan entitas negara Madinah pada saat itu. Wajar pada waktu apa yang dilakukan Hatib r.a ini diketahui oleh sahabat yang lain, mereka marah luar biasa.
Akan tetapi, Rasulullah SAW sebagaimana dibimbing oleh Allah SWT hanya memberi teguran keras kepada Hatib r.a dengan tetap menjaga kehormatan Hatib r.a di hadapan sahabat lainnya dengan menyatakan: "Bukankah dia termasuk ahli Badar?"
Rasulullah SAW melanjutkan, "bahwa semoga Allah memperhatikan ahli Badar (dengan perhatian yang khusus)."
Rasulullah SAW sendiri yang ma'shum pernah melakukan tindakan yang kurang tepat kepada orang lain, akan tetapi Allah SWT menjaga Rasulullah SAW dari perbuatan salah yang berlarut-larut dengan menegurnya secara langsung.
Ada beberapa kejadian dimana Rasulullah SAW diluruskan oleh Allah swt. Pernah pada saat Rasulullah SAW sedang berdakwah kepada seorang pembesar Quraisy bernama Ubay bin Kholaf, tiba-tiba saat itu datang seorang buta bernama Abdulullah bin Umi Maktum r.a. Karena fokus ingin berdakwah kepada sang pembesar, Rasulullah SAWtidak memberikan perhatian yang cukup kepada Abdullah bin Umi Maktum r.a yang sebenarnya lebih siap membuka hatinya untuk kebenaran.
Sikap Rasulullah SAW yang mengabaikan kehadiran Abdulllah bin Umi Maktum r.a tersebut ditegur langsung oleh Allah SWT di dalam Surat 'Abasa.
Di lain waktu Rasulullah SAW dengan pertimbangan untuk menyenangkan seorang istrinya, beliau mengharamkan untuk dirinya sesuatu yang halal yaitu madu. Tindakan Rasulullah SAW inipun langsung ditegur oleh Allah SWT dalam Surat At-Tahrim.
Begitulah manusia dengan keterbatasan dirinya menyebabkan dia bisa menjadi sosok yang berpeluang berbuat baik, tapi saat yang sama juga berpeluang berbuat kesalahan. Manusia adalah makhluk complicated yang di dalam dirinya berhimpun begitu banyak dimensi dan variabel, mulai dari variabel fisik yang tumbuh berkembang mengikuti siklus usia, variabel kepribadian yang juga mengalami dinamika seiring pengalaman-pengalaman hidup dirinya, juga variabel rasionalitas yang berkembang seiring stimulus-stimulus yang didapatkan olehnya melalui berbagai macam media. Allah SWT sendiri menegaskan akan menguji manusia dalam hidupnya di dunia dengan 2 jenis tarikan, yaitu tarikan berbuat baik dan tarikan berbuat kesalahan, faalhamaha fujuuroha watakwaaha. Anugerah fisik, hati dan akal yang Allah SWT berikan kepada manusia dimaksudkan agar manusia memiliki modal dasar untuk memilah dan memilih tindakan yang tepat, baik dan benar untuk kehidupan dirinya dan orang lain.
Perpaduan fisik yang sempurna dengan kekuatan akal dan hati itulah yang menjadikan manusia diberikan predikat the best creature atau ciptaan Tuhan yang terbaik (ahsani taqwiim). Akan tetapi variabel dan dimensi tersebut tetap dilimitasi oleh Allah SWT dengan keterbatasan. Keterbatasan itulah yang menyebabkan manusia seringkali menggunakan prasangka atau dugaan dalam bertindak dan berfikir, dan karena itulah manusia seringkali terjatuh dalam kesalahan.
Dengan penjelasan di atas, manusia seperti sebuah model persamaan dalam tinjauan statistik. Manusia adalah model persamaan terbaik. Kumpulan amal perbuatan dan pengalaman hidup seperti kumpulan data deret waktu (time series) yang membentuk model persamaan terbaik bernama manusia. Sekalipun dia merupakan model persamaan terbaik, akan tetapi secara statistik tetap saja ada potensi error/galat yang menyertai model persamaan tersebut.
Mekanisme Memaafkan, Mekanisme Ilahiyyah Atas Potensi Error Manusia
Dalam hadits riwayat Imam At Tirmidzi disebutkan agar seorang Muslim banyak membaca doa "Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf" khususnya di Bulan Ramadhan dan lebih khusus di 10 hari terakhir Ramadhan.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Memaafkan (Al Ghaffar dan Al 'Afuuw). Tidak ada dosa yang tidak dimaafkan Allah SWT kecuali dosa mempersekutukan Allah SWT dengan yang lain. Luasnya ampunan Allah SWT digambarkan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sebuat hadits: "Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi).
Rasulullah SAW sebagai utusan-Nya pun memberikan keteladanan dalam keluasan maaf yang dimilikinya. Menjelang Perang Uhud, Rasulullah saw menugaskan beberapa orang sahabat untuk berjaga di Bukit Uhud agar dapat mengamati pergerakan musuh dan memberi support kepada pasukan muslim apabila terdesak di bagian bawah bukit. Akan tetapi para sahabat ini turun meninggalkan pos jaganya karena tertarik dengan harta rampasan perang yang ditinggalkan musuh. Akibatnya fatal, pasukan musuh memutari Bukit Uhud untuk melancarkan serangan balik yang tidak disangka-sangka, sehingga membuat puluhan pasukan muslim mati sebagai syuhada. Bahkan Rasulullah SAW mengalami luka parah akibat serangan balik ini, dan hampir mengancam nyawa Beliau yang mulia. Akan tetapi dengan izin Allah SWT, pasukan muslim bisa selamat dan menang dalam peperangan.
Pasca Perang Uhud terjadi perselisihan di kalangan sahabat dalam menyikapi hukuman apa yang akan diberikan kepada pasukan muslim yang desersi meninggalkan tugas di Bukit Uhud. Di tengah amarah para sahabat terhadap pasukan Muslim yang desersi tersebut, Rasulullah SAW dengan kelembutan sikap dan akhlaknya justru memberikan ampunan kepada mereka, bahkan Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk tetap melibatkan para desertir tersebut dalam musyawarah-musyawarah yang akan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Allah SWT mengabadikan kisah indah ini dalam firmanNya : ".... maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu" (Surat Ali Imron ayat 159).
Pada tahun ke-5 Hijriah terjadi keguncangan sosial yang cukup dahsyat di Kota Madinah. Pemicunya adalah fitnah yang disebarkan oleh orang-orang munafik atas keluarga Rasulullah SAW. Fitnah ini menuduh Ummul Mukminin Aisyah r.a telah berselingkuh dengan seorang sahabat bernama Shafwan bin Mu'attal. Isu dan fitnah sosial ini bahkan ikut disebarluaskan oleh sebagian sahabat Rasulullah SAW, salah satunya oleh Misthah bin Utsâtsah yang masih terhitung sepupu dari sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq r.a.
Misthah yang merupakan sahabat mulia yang juga adalah veteran Perang Badar, dan Rasulullah SAW sangat memberikan penghormatan kepada para veteran Badar. Akan tetapi disebabkan oleh dahsyatnya orang munafik menyebarkan fitnah tersebut, bahkan sahabat sekaliber Misthah pun termakan dengan isu dan fitnah itu.
Setelah Allah SWT menceritakan kejadian sebenarnya melalui firman-Nya di dalam Surat An Nur, bahwa Aisyah r.a tidak melakukan apa yang dituduhkan seperti dalam fitnah tersebut, maka Abu Bakar Ash Shiddiq r.a yang merupakan ayah dari Aisyah r.a bertekad memberikan punihsment kepada Misthah r.a yang selama ini kehidupan ekonominya ditanggung oleh Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. Abu Bakar Ash Shiddiq r.a berencana menyetop bantuan ekonomi yang selama diberikan kepada Misthah r.a.
Akan tetapi Rasulullah SAW diajarkan oleh Allah SWT untuk menegur Abu Bakar Ash Shiddiq r.a untuk tidak melakukan apa yang direncanakannya itu, bahkan memerintahkan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a untuk memberikan permaafan yang seluas-luasnya kepada Misthah r.a. "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan danberlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang" (Surat An Nur Ayat 22).
Ramadhan, Momentum Permaafan Atas Margin of Error Kemanusiaan
Rasulullah SAW bersabda tentang Ramadhan; "Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari dan Muslim).
Ramadhan adalah bulan yang mulia. Salah satu penyebab kemuliaannya adalah karena bulan Ramadhan memberikan kesempatan manusia untuk saling melapangkan kehidupan antar sesama manusia dari ketersinggungan, hasad, dengki dan amarah.
Spirit saling memaafkan yang diajarkan oleh Allah SWT di Bulan Ramadhan, apabila dibawa dalam kehidupan sosial manusia, baik di keluarga, masyarakat, lingkungan kerja dan seterusnya pasti akan menjadi resolusi yang luar biasa atas berbagai masalah dan problematika sosial yang dihadapi oleh umat manusia. Semoga.***
Muji Basuki adalah Statistisi BPS Kota Pekanbaru.