DURI - Cabai adalah salah satu komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, tanaman cabai juga tak pernah kehabisan peminat karena hampir setiap orang membutuhkannya.

Ada yang untuk keperluan masak pribadi, untuk bahan baku industri, sumber vitamin, ataupun untuk diperdagangkan di pasar ekspor. Pastinya, bisnis budidaya cabe sangat menjanjikan karena selalu dibutuhkan dan memiliki pasar yang sangat besar.

GoRiau Panen cabe bersama
Panen cabe bersama
Salah satunya Ridwan (60), warga Kelurahan Balik Alam, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau. Ia memilih pensiun dari pekerjaannya sebagai pemborong bangunan. Kebetulan sejak masa pandemi Covid-19 ini, memang tidak ada tawaran pekerjaan bangunan.

Sehingga ayah dari 8 orang anak ini menjadi petani cabe sejak Juni 2020 lalu. Tentunya keputusan itu dibuat dengan perhitungan yang sangat matang. Sebab berladang cabe juga butuh keahlian agar hasil panen juga sesuai dengan perhitungan yang sudah dibuat.

GoRiau Camat Riki Rihardi memanen cab
Camat Riki Rihardi memanen cabe.
Untuk itu juga, pria kelahiran Lubuk Basung ini menggandeng seorang petani lokal, yang sudah terkenal sukses dalam setiap menanam cabe. Petani itu namanya Edi, warga Kelurahan Pematang Pudu.

Di lahan yang tidak jauh dari tempat tinggal Edi inilah Ridwan menanam 7.000 bibit cabe sekitar 3 bulan yang lalu. Dalam hitungan Kakek yang sudah memiliki 7 orang cucu ini, budidaya cabenya di lahan 3.000 meter persegi itu akan mendapat panen besar hingga 3 kali.

GoRiau Ridwan dan Edi menunjukan cara
Ridwan dan Edi menunjukan cara menanam bibit cabe.
"Dari yang saya pelajari, 1 pokok cabe ini akan menghasilkan 1 kg cabe. Tentunya jika dikalikan dengan 7.000 pokok cabe, maka akan panen sekitar 7 ton cabe. Jika harga cabe saat ini Rp 20 ribu per kilogram, maka sudah Rp140 juta hasil panen keseluruhan. Dan jika harga cabe tinggi, tentunya keuntungan akan jauh lebih banyak," kata Ridwan kepada GoRiau.com.

Dijelaskan suami dari Khadijah ini, karakter cabe hanya bisa ditanam dengan lahan yang tidak begitu basah, dan tanaman cabai sangat sensitif dengan musim penghujan. Jadi, cabe akan tumbuh lebat jika ditanam pada musim kemarau, atau musim pancaroba di mana intensitas hujan rendah.

Meski terbilang baru menanam cabe, dia pun telah melakukan pemasaran di pasar-pasar tradisional, bahkan kebun miliknya pun telah banyak didatangi pengepul dari pasar yang ingin membeli cabe dalam jumlah banyak.

GoRiau Foto bersama Camat Mandau deng
Foto bersama Camat Mandau dengan masyarakat setempat ladang cabe Ridwan dan Edi.
Selain itu juga, Dinas Pertanian di Kabupaten Bengkalis melalui UPT di Kecamatan Mandau mengakui budidaya cabai yang digarap Ridwan dan Edi ini terbilang subur. Cabe tumbuh dan masak sesuai waktunya. Bahkan tidak ada cabe yang rusak karena hama dan lainnya.

Untuk itu, UPT Pertanian Kecamatan Mandau bersama Camat Mandau, Riki Rihardi mendatangi ladang cabe Ridwan tersebut. Bahkan, Camat juga ikut bersama warga memetik cabe yang merah dan sudah waktunya dipanen, serta bertanya lebih banyak tentang budidaya cabe merah ini.

 "Manajemen pola tanamnya bagus, sehingga cabe bisa panen pada waktunya. Dengan penerapan pola tanam, saya jamin tidak ada yang namanya fluktuasi harga karena tanam dan panennya sudah diatur sehingga pasokan ke masyarakat cukup, tidak berlebih, tidak juga kurang," kata Camat Mandau. 

Selanjutnya, Camat Mandau juga akan mengupayakan akses jalan masuk ke ladang tersebut ditingkatkan. Karena kondisinya saat ini sangat sulit dilalui kendaraan roda empat. ***