PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau mendorong pemanfaatan peternakan ayam petelur lokal yang telah memenuhi standar higienitas untuk menopang kebutuhan pangan masyarakat, termasuk mendukung Program Makan Bergizi (MBG) di Kota Pekanbaru. Salah satunya melalui promosi peternakan ayam petelur mandiri yang telah mengantongi Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, Rabu (28/1/2026), mengatakan hal tersebut saat melakukan kunjungan ke salah satu peternakan ayam petelur mandiri milik Rafles di kawasan Kulim, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.
“Peternakan ini sudah memiliki NKV, artinya secara persyaratan higienitas dan sanitasi sudah memenuhi ketentuan. Ini tentu menjadi motivasi bagi peternak lain untuk mengikuti jejak yang sama,” ujar Mimi kepada GoRiau.com.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan melihat langsung aktivitas produksi di peternakan dengan populasi sekitar 10.000 ekor ayam petelur. Dari jumlah tersebut, produksi telur harian mencapai 6.000 hingga 8.000 butir per hari.
Menurut Mimi, sebagian besar telur didistribusikan ke warung-warung di sekitar wilayah Kulim dan Tenayan Raya. Selain itu, produksi telur dari peternakan tersebut juga telah dipasarkan ke luar daerah, yakni Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.
“Ini menunjukkan bahwa peternakan lokal sebenarnya punya daya saing secara bisnis. Bahkan sudah menjangkau pasar antarwilayah,” katanya.
Mimi menambahkan, keberadaan peternakan ber-NKV menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan pangan hewani, terutama setelah diterapkannya Program Makan Bergizi (MBG). Dalam skema MBG, menu telur dan daging dijadwalkan muncul masing-masing dua kali dalam sepekan, sehingga membutuhkan suplai yang konsisten dan terjamin mutunya.
“Kami akan merekomendasikan peternakan yang sudah ber-NKV ini kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pekanbaru. Karena untuk distribusi ke masyarakat, terutama program pemerintah, aspek keamanan pangan menjadi syarat utama,” ujar Mimi.
Ia mengakui, selama ini sebagian besar kebutuhan telur di Pekanbaru masih dipasok dari daerah penyangga seperti Sumatera Barat dan provinsi tetangga lainnya. Hal itu terjadi karena produksi telur di Pekanbaru relatif terbatas.
“Ke depan, kami mendorong agar SPPG mengambil pasokan dari wilayah sendiri terlebih dahulu. Kalau ada di daerah kita, kenapa harus ambil dari luar?” ucapnya.
Sementara itu, Russel, pemilik usaha peternakan ayam petelur yang dikunjungi, mengatakan usaha tersebut telah berjalan selama enam hingga tujuh tahun. Peternakan berdiri di atas lahan seluas sekitar satu hingga dua hektare yang digunakan khusus untuk kandang ayam.
“Produksi per hari sekitar 8.000 butir telur. Pemasarannya ke sekitar Kulim dan juga ke Tanjung Balai Karimun,” kata Russel.
Ia berharap dukungan pemerintah daerah, terutama melalui program-program penguatan peternak lokal, dapat membantu keberlanjutan usaha peternakan mandiri di Pekanbaru. ***


