PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau berkomitmen menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Salah satu langkah konkret yang akan diterapkan adalah membiasakan siswa membaca buku minimal 10–15 menit setiap hari sebelum memulai pelajaran.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, Indra, menyampaikan hal itu kepada GoRiau di ruang kerjanya, Rabu (1/10/2025). Komitmen ini merupakan kesepakatan bersama Pemprov Riau dengan Dinas Pendidikan serta Kementerian Agama sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat dan turut ditandatangani dalam Festival Literasi Riau

“Pertama, kita berkomitmen bersama-sama, berharap anak sekolah itu sebelum mulai pembelajaran ada membaca buku minimal 10–15 menit. Jadi setiap hari anak didik terbiasa membaca,” kata Indra.

Indra menjelaskan, Dinas Pendidikan memiliki kewenangan atas seluruh SMA, SMP, dan SD, sedangkan Kementerian Agama membawahi Madrasah. Keduanya, kata dia, akan menindaklanjuti kesepakatan ini agar berjalan efektif.

“Apakah nanti akan ada surat edaran atau bentuk lainnya, itu nanti Dinas Pendidikan dan Kemenag yang mem-follow up,” ujarnya.

Ia menegaskan, membiasakan anak membaca setiap hari adalah pintu masuk untuk meningkatkan daya literasi masyarakat Riau. “Kalau sejak dini sudah terbiasa membaca, ke depan akan lebih mudah membangun budaya gemar membaca,” tambahnya.

Berdasarkan kajian tingkat kegemaran membaca nasional tahun 2024, Riau masih berada di angka 70 persen, di bawah rata-rata nasional yang mencapai 72 persen. Keduanya berada dalam kategori sedang.

Indra menyebut angka ini menjadi tantangan sekaligus motivasi untuk memperbaiki kondisi literasi daerah. “Kita berharap ke depan bisa lebih ditingkatkan. Jadi jangan puas dulu, meskipun kategorinya sama-sama sedang, kita ingin Riau bisa naik,” katanya.

Meski program membaca di sekolah menjadi langkah awal, tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan akses buku di daerah-daerah jauh dari perkotaan. Menurut Indra, kondisi ini membuat anak-anak di desa lebih sulit mengakses bahan bacaan yang memadai.

“Di kabupaten/kota kan ada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga. Kita berharap mereka bisa berkolaborasi, saling mendukung, dan saling mengisi,” ujarnya.

Indra mencontohkan, di Pekanbaru Pemprov Riau sudah mengoperasikan layanan perpustakaan keliling untuk menjangkau masyarakat. Ia berharap kabupaten/kota juga memiliki program serupa.

“Mobil pustaka keliling itu bisa masuk ke pelosok-pelosok desa, setidaknya untuk mensosialisasikan gemar membaca, terutama bagi anak-anak,” katanya.

Indra menegaskan, meningkatkan literasi tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Perlu dukungan bersama, termasuk pemerintah kabupaten/kota, sekolah, keluarga, hingga masyarakat luas.

“Budaya membaca itu tidak bisa dipaksakan, tapi dibiasakan. Kalau setiap hari anak-anak sudah membaca, lama-lama akan menjadi kebiasaan baik yang melekat,” tuturnya.

Ia optimistis, dengan komitmen bersama serta dukungan fasilitas dari berbagai pihak, Riau bisa memperbaiki peringkat literasi. Program membaca 15 menit di sekolah, layanan perpustakaan keliling, hingga kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi langkah awal menuju masyarakat yang gemar membaca. ***