
PEKANBARU, GORIAU.COM - Pada pertengahan April 2014 ini harga Tandan Buah Segar (TBS) kembali turun yaitu sebesar Rp 58,59/kg. Hal itu terungkap pada saat rapat Tim Penetapan Harga TBS yang dilaksanakan di aula Disbun Riau, Selasa (15/4/014) siang.
Harga TBS yang diputuskan oleh TIM adalah untuk umur 3 tahun yaitu Rp 1.358,72/kg, umur 4 tahun yaitu Rp 1.517,29/kg, umur 5 tahun yaitu Rp 1.623,62/kg, umur 6 tahun yaitu Rp 1.671,36/kg, umur 7 tahun yaitu Rp 1.735,16/kg, umur 8 tahun Rp 1.789,26/kg, umur 9 tahun Rp 1.846,70/kg, umur 10 tahun keatas yaitu Rp 1.898,19/kg. Untuk harga CPO yaitu Rp 8.424,46/kg, dan PKO yaitu Rp 5.872,62/kg.
Penurunan harga TBS ini karena adanya penurunan pembelian CPO dari beberapa negara utama tujuan ekspor CPO Indonesia seperti Tiongkok dan India.
Penurunan pembelian CPO ini menurut Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Zulher, saat ditemui di ruang kerjanya, kuat dugaan karena aturan kenaikan Bea Keluar CPO yang telah ditetapkan oleh Kementrian Perdagangan (Kemendag RI). Dimana pada Bulan Mei lalu BK CPO itu yaitu 10,5%, namun kebijakan Kemendag RI menaikkan harga CPO menjadi 13,5% terhitung pada bulan April 2014.
''Kuat dugaan penurunan permintaan tersebut karena kebijakan BK CPO yang terlalu tinggi. Sedangkan Malaysia yang terhitung rendah BK CPO nya yaitu 5% hanya berani menaikkan BK-nya sebesar 0,5% menjadi 5,5%,'' papar Zulher.
Banyaknya keluhan masyarakat petani kepada dia atas penurunan harga TBS ini, maka Dinas Perkebunan Provinsi Riau beserta Petani yang tergabung ke dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR Riau (Aspekpir) dan Assosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apaksindo) wilayah Riau akan mengirimkan surat kepada Kementrian Perdagangan agar kenaikan harga BK CPO ini dipertimbangkan lagi.
''Kita telah komunikasikan dengan kedua lembaga petani tersebut untuk menyurati Kemendag tentang evaluasi kenaikan BK CPO tersebut. Jika BK CPO tersebut harus juga dilakukan maka Disbun Riau juga meminta agar dana yang dikumpulkan dari Bea Keluar tersebut untuk dikembalikan lagi ke daerah penghasil CPO,'' ujar Zulher. (rls)