PEKANBARU - Mantan Chairman Riau Pos Group, Rida K Liamsi menyampaikan kekecewaan mendalam atas perlakuan tidak adil dari manajemen perusahaan yang didirikannya. Pernyataan ini disampaikan secara terbuka dalam jumpa pers di rumah makan Pondok Melayu Bandara, Pekanbaru, Selasa (30/6/2026).

Tokoh pers Riau ini menyoroti bagaimana sejarah panjang pembangunan media terbesar di Sumatera itu kini seolah dihapus begitu saja. Perusahaan yang dirintis dengan keringat dan air mata sejak tahun 1991 kini justru menyingkirkan para pendirinya.

Rida merupakan sosok sentral yang berhasil memecahkan pameo di industri jurnalistik nasional. Sebelum Riau Pos hadir, koran daerah di luar Jawa selalu dianggap hanya berumur seumur jagung akibat kalah saing dengan media terbitan Jakarta.

Berawal dari sebuah surat kabar mingguan dengan modal nyaris nihil, Rida dan rekan-rekannya merintis usaha dari bawah. Keterbatasan infrastruktur cetak dan distribusi di pelosok Riau tidak menyurutkan langkah para perintis ini.

Ketekunan tersebut berbuah manis ketika perusahaan sukses berkembang menjadi sebuah imperium bisnis media. Riau Pos Group merambah berbagai provinsi mulai dari Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, hingga Kepulauan Riau.

Ekspansi bisnis bahkan meluas ke sektor percetakan, stasiun televisi, dan properti berupa gedung perkantoran. Aset perusahaan yang awalnya hanya berupa mesin cetak senilai sekitar Rp 400 juta melonjak tajam mendekati angka Rp 1 triliun pada tahun 2016.

Namun, kejayaan masa lalu itu kini berubah menjadi mimpi buruk bagi orang-orang yang meletakkan pondasi awal perusahaan. Manajemen baru yang dikendalikan oleh pemegang saham mayoritas dinilai telah memandang sebelah mata jerih payah para pendiri.

Pemegang saham utama melalui PT Jawa Pos Jaringan Media Nusantara (JJMN) dituding bertindak semena-mena. Rida menyebut mereka menjalankan tirani mayoritas tanpa mempedulikan nasib pemegang saham lainnya maupun karyawan.

"Bukan hanya jasa kami yang dilupakan, tetapi kami juga diperlakukan secara semena-mena," ujar Rida dalam pernyataan tertulisnya.

Ironisnya, manajemen baru ini dianggap belum berhak bertindak sebagai pemilik penuh. Rida mengungkapkan bahwa pihak mayoritas tersebut belum sepenuhnya menyetorkan kewajiban modal mereka ke dalam kas perusahaan.

Bermodalkan akta notaris yang awalnya dibuat sekadar untuk mempermudah operasional, pihak manajemen kini mengambil keputusan-keputusan strategis secara sepihak. Pengorbanan para tokoh yang dahulu membangun jejaring dengan pemerintah daerah Riau seolah tidak memiliki arti lagi.

Rida tidak bisa menyembunyikan kesedihan saat membandingkan tantangan masa lalu dengan penderitaan saat ini. Dahulu ia menangis karena kendala teknis, namun kini air matanya jatuh karena hilangnya rasa kemanusiaan di dalam perusahaan.

"Aku pernah menangis saat koran tidak terbit karena listrik mati, namun sekarang aku menangis karena perbuatan baik tiba-tiba tidak dihargai," urainya di hadapan para wartawan.

Bukan hanya Rida, deretan nama pendiri lain seperti almarhum Zulmansyah Sekedang, Sutrianto, Makmur Kasim, dan Asnida Syukur turut merasakan imbas dari kekuasaan manajemen baru ini. Mereka yang dahulu menahan lapar demi terbitnya koran kini justru harus berhadapan dengan hukum.

Dukungan moral untuk Rida K Liamsi terus mengalir dari berbagai pihak di Riau. Publik menilai perlakuan terhadap para pendiri ini tidak mencerminkan etika bisnis yang baik dan mencederai nilai-nilai sejarah jurnalistik di Sumatera.

Banyak mantan anak didik Rida yang kini menjadi pemimpin media merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Mereka menyayangkan sikap manajemen yang lupa pada akar sejarah bagaimana Riau Pos Group bisa berdiri tegak.

Keberhasilan Rida melahirkan puluhan koran lokal dan mendidik ratusan wartawan muda merupakan warisan yang tidak bisa diukur dengan uang. Kaderisasi jurnalis yang ia lakukan telah membentuk lanskap media massa yang kuat di wilayah Sumatera Bagian Tengah dan Utara.

Kini sang perintis harus duduk di kursi pesakitan menghadapi laporan polisi terkait posisinya dahulu. Di tengah gempuran tersebut, Rida tetap menunjukkan ketenangan seorang pemimpin sejati.

Langkah hukum yang sedang berjalan di Kejaksaan Tinggi Riau ia hadapi dengan tegar. Baginya, sejarah akan selalu mencatat kebenaran tentang siapa yang membangun dan siapa yang meruntuhkan tatanan yang sudah ada.

Publik kini menanti bagaimana akhir dari sengketa bersejarah ini. Harapan agar keadilan ditegakkan bagi tokoh yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan pers daerah terus disuarakan secara luas. ***