JAKARTA, GORIAU.COM - Seiring dengan dengan perkembangan metode dan strategi diplomasi antar negara, salah satu cara untuk memperkuat pengaruh sebuah negara kepada negara lain, tidak lagi hanya bersandar pada kekuatan para diplomat semata. Akan tetapi digunakan strategi lain, yaitu dengan cara membangun sel-sel orang atau organisasi non govermnet di dalam negara yang menjadi target.
Demikian dikatakan Kasubdit Ormas Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kementerian Dalam Negeri, Bachtiar, di Jakarta, Selasa 17 Maret 2015. Menurut Bachtiar, ia menangkap trend digunakannya organisasi kemasyarakatan sebagai alat diplomasi. Sel-sel orang atau organisasi tersebut diproduksi dengan secara sistemik, masif dan terstuktur dalam jangka waktu berpuluh-puluh tahun."Polanya adalah antara lain dengan merekrut sumber daya manusia potensial di negara tersebut antara lain melalui program beasiswa atau studi lainnya, atau membiaya operasional Ormas atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di negara tersebut," kata dia.Bachtiar melanjutkan, kemudian negara atau sang donor mensyaratkan kriteria tertentu dan menanamkan nilai-nilai spesifik yang wajib disuarakan oleh orang-orang atau organisasi yang telah mendapat bantuan donor dari negara bersangkutan. Lalu orang atau organisasi-organisasi yang telah dibiayai si negara donor tersebut wajib secara konsisten menyuarakan nilai-nilai yang diintrodusir oleh sang donor."Oleh karena itu, organisasi yang paling potensial saat ini menjadi alat diplomasi antar negara adalah Ormas, LSM atau lembaga nirlaba lainnya," kata Bachtiar.Apalagi kata doktor pemerintahan dari Universitas Padjadjaran tersebut, keberadaan Ormas di negara dunia ketiga, umumnya tidak mandiri secara ekonomi. Dan mereka sangat membutuhkan akses ke dunia internasional serta fasilitas lainnya. Disisi lain negara dunia ketiga biasanya tidak memberi perhatian yang cukup pada Ormas didalam negerinya."Sehingga dengan leluasa donor asing dapat memainkan pengaruhnya dan membuat ketergantungan terhadap Ormas-ormas yang hidup di negara tersebut," ujarnya.Situasi dan kondisi tersebut kata Bachtiar, baunya dan rasanya sangat-sangat kuat saat ini. Oleh sebab itu, semua pihak perlu duduk bersama memikirkan solusi agar energi potensial yang dimiliki Ormas lokal Indonesia kembali berkarakter keindonesian seperti jaman dahulu. Hal tersebut penting dilakukan agar Ormas Indonesia tidak sekedar ikut arus gelombang globalisasi.''Tetapi dibalik menjadi pengatur arah gelombang globalisasi. Dan berani menyatakan bahwa kami bangsa Indonesia dalam berorganisasi di bidang sosial kemasyarakatan memiliki cita rasa sendiri yang sangat berbeda dengan cita rasa ormas yang ada pada bangsa-bangsa lain di dunia," urai Bachtiar. (gus)
