KUALA LUMPUR - Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim mengingatkan PM Malaysia sebelumnya, Muhyiddin Yasin, untuk tidak menantangnya mengungkap dugaan penggelapan dana pemerintah sebesar RM600 miliar atau setara Rp2.133 triliun.

Dikutip dari Tempo.co yang melansir Channel News Asia, peringatan Anwar Ibrahim itu menanggapi pernyataan Muhyiddin, pada Senin, 5 Desember 2022, bahwa dirinya tidak takut diselidiki.

Dalam laporan polisi yang diajukan terhadap Muhyiddin Yassin, ia diduga menggelapkan dana pemerintah sebesar RM 600 miliar atau setara Rp 2.133 triliun untuk mengelola dana pandemi Covid-19 selama masa jabatannya sebagai perdana menteri. 

"Saya ingin mengingatkan Muhyiddin untuk tidak menantang (saya) karena terbukti ada proses dan prosedur yang tidak diikuti," ujar Anwar Ibrahim, Selasa.

Anwar Ibrahim menyatakan bahwa ada puluhan miliar ringgit yang dialokasikan oleh pemerintahan Muhyiddin Yassin yang telah melanggar aturan dan prosedur. Bahkan ada perusahaan dengan kepentingan pribadi yang melibatkan hubungan keluarga, ujar Anwar Ibrahim. Namun dia merinci perusahaan dan sifat bisnis yang digeluti. 

"Mereka tidak (bersih), karena ditemukan bahwa ada persetujuan yang dilakukan tanpa mengikuti peraturan. Ini termasuk persetujuan yang dibuat selama perintah kontrol gerakan," ujar Anwar Ibrahim.

Perintah kontrol pergerakan (MCO) diterapkan di bawah pemerintahan Muhyiddin untuk mengelola penyebaran Covid-19. Kebijakannnya antara lain termasuk penguncian dan pembatasan pada pertemuan sosial. 

Pada hari Senin, Anwar, yang juga menteri keuangan, mengatakan dia diberitahu oleh kementeriannya bahwa telah terjadi beberapa pelanggaran prosedur oleh pemerintahan sebelumnya, menurut Malay Mail. Pelanggaran itu terjadi setelah tuduhan penyalahgunaan dana RM 600 miliar oleh administrasi Muhyiddin untuk dana Covid-19.

Muhyiddin membantah tuduhan Anwar Ibrahim. Dia mengklaim bahwa tuduhan ini adalah cara untuk membungkam oposisi terhadap pemerintahan baru. 

Desakan agar pemerintah menyelidiki soal dana Covid mencuat karena persepsi bahwa PN memiliki banyak dana untuk kampanye pada pemilu Malaysia 19 November lalu. Namun menurut Sekretaris Jenderal PN Hamzah Zainudin, Perikatan Nasional hanya memberikan RM 50.000 kepada setiap kandidatnya yang bersaing dalam pemilihan.***