
SELATPANJANG, GORIAU.COM - Meski Kepulauan Meranti memiliki 25 sekolah menengah atas sederajat, namun untuk tahun ini hanya 2 sekolah yang diikutkan dalam penilaian Adiwiyata tingkat Provinsi Riau. Dua sekolah itu adalah Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tebingtinggi dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Selatpanjang.
Untuk SMAN 1 Tebingtinggi, Kamis (12/3/2015) Tim Penilai dari Badan Lingkungan Hidup Kepulauan Meranti telah turun dan melakukan pengecekan kesiapan sekolah itu untuk mengikuti penilaian Adiwiyata.Kasubbid Evaluasi dan Amdal BLH Meranti, Raja Yusran, ketika ditemui di sela-sela tinjauannya mengatakan bahwa tahun ini mereka mengajukan dua sekolah untuk mengikuti penilaian adiwiyata tingkat Provinsi dari 25 sekolah yang ada di Meranti."Pada tahun ini kita mengajukan 2 sekolah, yakni SMA Negeri 1 dan SMK Negeri 1 Selatpanjang. Sekolah SMA Negeri 1 dilakukan penilaian mulai dari ruang kelas siswa, dari penilaian kelas tersebut SMAN 1 sudah memiliki banyak kemajuan, dan diharapkan untuk lolos di tingkat Provinsi nanti," kata Raja.Dia juga menambahkan, penilaian Adiwiyata ini bukan sekedar Sekolah itu indah, tetapi dilihat dari Administrasi, penilaian Dokument, serta tampilan Fisik sekolahnya. "Sekolah ini sebenarnya bisa diajukan untuk tembus tingkat Provinsi," harapnya.Tidak hanya itu, kata Raja juga, dari 2 sekolah yang kami ajukan tersebut, Pihak BLH dapat mematangkan koordinasi dari pihak sekolah, diantaranya membantu Administrasi, Dokumentasi, serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti rumah kompos.Sementara itu, penanggungjawab Adiwiyata SMA Negeri 1 Tebingtinggi, Fadillah SSi, menuturkan bahwa, dalam penilaian Adiwiyata ini dimulai dari ruang kelas, dimana ruang kelas tersebut merupakan partisipasi yang besar dalam menunjang program Adiwiyata ini. "Program Adiwiyata ini sudah 2 tahun berjalan, yang pertama dari tingkat kabupaten, sedangkan yang ke dua dari tingkat provinsi yang saat ini tengah gencarnya pihak sekolah mengikuti Adiwiyata tingkat provinsi itu," kata Fadillah.Kata Fadillah juga, hal yang paling menonjol dari program Adiwiyata itu adalah Kreativitas siswa-siswi, dalam memaksimalkan pemanfaatan sampah menjadi barang yang berguna, dan keterlibatan warga sekolah sangat penting, minimal 70 persen. "Peran siswa-siswi itu sangat penting terhadap pencerminan lingkungan sekolah, untuk menuju sekolah Adiwiyata, yang dimulai dari penataan kelas," tuturnya.Tidak hanya itu, kata Fadillah juga, untuk mengikuti Adiwiyata tingkat Provinsi ini, pihak Sekolah sudah mempersiapkan selama 6 bulan lamanya, dan pada bulan April nanti akan dilakukan penilaian dari provinsi."Yang menjadi kendala saat ini adalah belum maksimalnya kualitas air, karena apabila dirasakan air tersebut terasa payau, kalau dipergunakan untuk minum tidak bisa, namun kalau untuk mencuci tangan sudah memadai," keluh Fadillah.***