JEREBU menusuk kalbu meresahkan jiwa jerebu menyeruduk paru menyesak dada Jerebu bertamu di pintu menumpuk di ruang rumah.

Jerebu masuk sekolah mengamuk pada guru dan sekolah pun diliburkan suka-suka

Dua bait di atas merupakan penggalan dari puisi berjudul ''Perjalanan Jerebu'' yang dibacakan penyair Fakhrunnas MA Jabbar, pada acara pembacaan puisi bertemakan ''Asap dan Azab'' di Fresh on Cafe Festival, di Jalan HR Subrantas, Pekanbaru, Sabtu (3/10/2015) malam.

Tepuk tangan nyaris tak putus dari pengunjung kafe (sebagian merupakan jurnalis), selama Fakhrunnas membacakan puisinya. Apa lagi ketika Fakhrunnas membacakan puisi berjudul ''Riau Sudah Kuasapkan Riauku'' dengan gaya nge-rap dan diiringi musik. Selain ''Perjalanan Jerebu'' dan ''Sudah Kuasapkan Riauku'', malam itu Fakhrunnas membacakan puisi ''Asap Pun Tak Takut Presiden''. Ketiga puisi tersebut ditulis Fakhrunnas sebagai wujud kemarahannya terhadap bencana kabut asap yang saban tahun melanda Riau.

Sebelum Fakhrunnas, pengunjung kafe dipukau penampilan penyair senior Riau Alhaj Aris Abeba. Tiga puisi bernuansa kritik sosial yang dibacakan penyair berkumis tebal tersebut mampu memancing emosional para pendengar, sehingga tepuk tangan dan teriakan pun terus bergema.

Penyair ketiga yang membacakan puisinya adalah H Dheni Kurnia. Tiga puisi yang dibacakan Dheni malam itu, juga merupakan bentuk kejengkelannya terhadap bencana asap yang telah merusak semua aspek kehidupan masyarakat Riau. "Asap membuat kami melupakan janji. Asap membuat kami melupakan cinta," demikian penggalan salah satu puisi yang dibacakan Dheni.

Menggunakan gaya 'berdendang', seperti yang lazim dilakukan dukun di Suku Talang Mamak saat membacakan mantra, membuat pembacaan puisi oleh Dheni terasa beraroma mistis. Sehingga para pengunjung pun terkesima dan terdiam.

Suasana kembali riuh dengan tepuk tangan, saat Dheni menunjukkan ekspresi semangat dan emosional membacakan bait-bait bernuansa protes dan kemarahan.

''Kami mati dalam kandang''. Itulah baris terakhir dari puisi ketiga yang dibacakan Dheni malam itu, yang disambut tepuk tangan dan suitan meriah dari para pengunjung.

Ya, penampilan trio Dheni Kurnia-Aris Abeba-Fahrunnas, malam itu benar-benar memukau ratusan pengunjung kafe.

Sejumlah pengunjung berharap kegiatan pembacaan puisi seperti ini bisa dilakukan secara rutin di kafe tersebut setiap malam Minggu. ''Puisi ini tak hanya menghibur, tapi juga bisa mengasah naluri kemanusiaan kita agar lebih halus," kata salah seorang pengunjung.

Usai pembacaan puisi, Dheni Kurnia mengungkapkan, acara tersebut merupakan salah satu bagian dari upaya melawan kabut asap yang sudah berlangsung sekitar dua bulan di Riau tahun ini. "Kita mencoba melawan kabut asap ini dengan berbagai cara, termasuk lewat puisi, seperti yang kita lakukan malam ini,'' ujarnya.

Dheni juga berterima kasih kepada para pengunjung kafe yang telah memberikan apresiasi luar biasa ketika mereka membaca puisi. ''Ternyata pengunjung menyimak dengan serius dan memberikan apresiasi yang luar biasa,'' sambungnya.

Dheni menambahkan, acara baca puisi ini sekaligus dimaksudkan memeriahkan final Haluan Riau Singing Contest.

Bio Data Penyair

Alhaj Aris Abeba nama aslinya adalah Asrial Aris Abeba (beda tipis), lahir di Air Molek, Indragiri Hulu, Riau, 12 Maret 1955. Pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Akademi Bahasa Asing (ABA) Yogyakarta dan Fakultas Ushuluddin IAIN Sultan Syarif Kasim. Pernah diundang membaca puisi ke berbagai kota di Indonesia dan berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Eropa dan Meksiko.

Fakhrunnas MA Jabbar, lahir di Air Tiris, Kampar, Riau, 18 Januari 1959. Pernah diundang membaca puisi dan membentangkan makalah pada 99'Cultural Exchange Programme Unescodi Seoul dan Kyong Ju (Korsel), PPN Brunei Darussalam, PSN XVI Singapura, Baca Puisi Dunia Numera 2014, 6th Meeting of indonesia Literary di Paris ditaja Asosiation Franco-Indonesien (AFI) serta April 2015 selama sepekan mengajar dan baca puisi bersama penyair Ramon Damora di Institut Nasional Bahasa dan Kebudayaan Timur (Inalco), Prancis di Kota Paris dan berceramah/baca puisi di Universitas Leiden, Belanda.

H Dheni Kurnia, lahir di Air Molek, Indragiri Hulu, Riau, 5 Mei 1960. Pernah menimba ilmu di Pesantren Thawalib Parabek, Bukittinggi, Sumbar, SMA Islam Mutiara Duri, Bengkalis, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Riau dan kini sedang menyelesaikan program Magister Komunikasi bidang Politik pada Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta. Kini Direktur Operasional Haluan Riau Media Group dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau. Pernah baca puisi di berbagai kota di Indonesia dan mancanegara, seperti di Amerika Serikat, Eropa, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Tiongkok dan sebagainya.(***)