PEKANBARU - Era digitalisasi telah merombak lanskap industri media secara drastis, menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia pers. Pergeseran perilaku audiens dan disrupsi teknologi menuntut insan pers untuk beradaptasi agar tidak tergilas zaman, termasuk di wilayah Riau.

Isu ini dikupas mendalam oleh Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru, Erwin Ardian, dalam diskusi bertajuk 'Tantangan dan Masa Depan Pers Riau', yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang diselenggarakan PWI di Gedung PWI Riau, Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Selasa (15/9/2026).

Erwin, yang telah berkecimpung di dunia jurnalistik sejak awal tahun 2000-an, mengawali paparannya dengan membagikan pengalamannya melintasi era analog hingga digital. Ia mengenang masa ketika pengiriman sebuah foto dari lapangan ke kantor redaksi membutuhkan waktu dan upaya ekstra.

"Dulu kita harus mencetak foto terlebih dahulu, kemudian bolak-balik mengirimkannya. Sekarang, dengan satu klik saja semuanya sudah sampai," terangnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti masa kejayaan media cetak, dimana para pengiklan bahkan harus rela antre untuk mendapatkan ruang iklan. Namun, kejayaan itu kini tinggal kenangan. Saat ini, masyarakat dapat mengakses informasi dengan mudah melalui berbagai platform digital.

Tantangan dan Adaptasi AI

Perubahan ini tidak hanya pada cara konsumsi informasi, tetapi juga pada distribusi pendapatan iklan. Erwin mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen pendapatan iklan kini mengalir ke platform digital raksasa seperti Google, YouTube, dan Facebook. Media yang memproduksi konten hanya mendapatkan porsi yang sangat kecil.

"Kenyataannya, iklan yang ada saat ini sebagian besar masuk ke platform tersebut. Sementara media yang bersusah payah membuat konten hanya mendapatkan porsi kecil," bebernya.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah kehadiran Artificial Intelligence (AI) di ruang redaksi. AI bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari operasional harian. Erwin menganalogikan AI dengan penemuan kalkulator; menolaknya berarti tertinggal.

Kolaborasi dan Kekuatan Jurnalisme Investigasi

Untuk bertahan di era digital, Erwin menekankan perlunya kolaborasi antarmedia dan menghindari persaingan internal yang merugikan. "Media mainstream saat ini menghadapi kompetitor yang sama, yaitu media sosial. Jika kita sibuk bersaing sendiri, kita akan jatuh bersama," tegasnya.

Ia juga mendorong media untuk memperkuat jurnalisme investigatif. Menurutnya, hal ini merupakan kekuatan utama pers yang tidak dapat ditiru oleh media sosial. Riau, dengan karakteristiknya yang unik seperti keberadaan industri kelapa sawit dan posisinya yang berdekatan dengan Malaysia dan Singapura, memiliki potensi besar untuk dieksplorasi melalui liputan mendalam.

Di akhir paparannya, Erwin menegaskan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, kebutuhan publik akan informasi yang benar, terpercaya, dan berpihak pada kepentingan umum tidak akan pernah pudar. Integritas inilah yang harus dipertahankan oleh media mainstream sebagai pembeda utama dari platform non-jurnalisme. ***