PEKANBARU – Aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Riau di depan Kantor Gubernur Riau, Rabu, 12 Agustus 2026, kembali ricuh setelah massa sempat menghentikan orasi untuk beristirahat. Kericuhan terjadi sekitar pukul 14.40 WIB ketika mahasiswa kembali menggelar aksi sembari menunggu janji Pemerintah Provinsi Riau untuk memfasilitasi komunikasi dengan Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto melalui video call.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Riau, Muhammad Azhari, kemudian mendatangi perwakilan kepolisian di tengah kericuhan. Ia mempersoalkan tindakan aparat setelah terjadi pemukulan dan sejumlah mahasiswa dibawa ke dalam pos keamanan di area Kantor Gubernur Riau.

“Di mana terjadi kerusuhan, ada pemukulan, hingga dibawa kepolisian ke dalam posko security,” kata Azhari kepada perwakilan kepolisian.

Azhari juga menyebut terdapat mahasiswa yang mengalami luka pada bagian kepala akibat kericuhan tersebut. Ia mempertanyakan tindakan aparat yang menurutnya membuat massa mahasiswa merasa terancam.

“Kami anak-anak, Bang. Kami anak-anak, Bang,” ujar Azhari dalam pernyataannya kepada aparat.

Menurut Azhari, mahasiswa tidak datang membawa senjata ataupun menghadapi aparat sebagai kelompok terlatih. Ia meminta kepolisian tidak menggunakan kekuatan secara berlebihan dalam menghadapi massa aksi.

“Sampai kapan pun, kalau kami melawan orang abang, abang punya tembak, kami tidak punya. Punya senjata kami tidak ada,” katanya.

Ia mengatakan mahasiswa datang untuk menyampaikan suara dan tuntutan, bukan untuk berhadapan dengan aparat keamanan. Karena itu, ia meminta polisi tidak menjadikan kewenangan yang dimiliki sebagai alasan untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap mahasiswa.

“Jangan dilawan kami. Kami cuma punya suara, Pak. Bukan orang-orang terlatih,” ujar Azhari.

Kericuhan sebelumnya terjadi setelah mahasiswa kembali melakukan orasi sekitar pukul 14.40 WIB. Massa sempat beristirahat sekitar pukul 14.00 WIB sembari menunggu kepastian komunikasi dengan SF Hariyanto yang saat itu berada di Batam.

Di tengah aksi, terjadi aksi saling pukul dan saling lempar botol antara massa dan aparat keamanan. Mobil komando mahasiswa yang sebelumnya berada tepat di gerbang Kantor Gubernur Riau juga diminta mundur dari lokasi.

Sejumlah mahasiswa yang dinilai aparat sebagai pemicu kericuhan terlihat ditarik dan dibawa masuk ke dalam area gerbang, tepatnya menuju pos keamanan.

Pantauan Goriau menunjukkan situasi di depan Kantor Gubernur Riau masih ricuh. Aparat keamanan berjaga di sekitar gerbang, sementara mahasiswa tetap bertahan menyampaikan tuntutannya.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa Unri membawa lima tuntutan. Mereka mendesak Pemerintah Provinsi Riau segera mencairkan beasiswa pemerintah provinsi, mengevaluasi dana hibah kepada lembaga vertikal, serta menyelesaikan persoalan abrasi dan konflik agraria di sejumlah wilayah Riau.

Mahasiswa juga menuntut perbaikan tata kelola pemerintahan dan transparansi alokasi anggaran daerah. Tuntutan lainnya adalah percepatan perbaikan jalan provinsi yang dinilai masih menjadi persoalan di Riau.

Sebelum kericuhan kembali pecah, mahasiswa sempat menyatakan kesediaan menunggu komunikasi dengan SF Hariyanto melalui video call. Namun, hingga kericuhan terjadi, komunikasi tersebut belum terlaksana. ***