JAKARTA - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal, mengatakan rencana pemerintah untuk menaikkan tarif tarif ojek online (ojol) akan menjadi polemik dan menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat.

Sebab, 50 persen konsumen ojol merupakan masyarakat yang berpendapatan menengah ke bawah.

"Ada 50 persen dari pengguna ojol cenderung memiliki upah bulanan antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, maka ini termasuk 40 persen pendapatan menengah ke bawah. Sehingga polemik, dan 40 persen daya beli masyarakat tersebut akan mengalami penurunan," ujarnya di Jakarta, Senin (11/2).

Fithra juga mengatakan konsumen akan merasa tidak nyaman dengan kenaikan harga ojek online tersebut. Peningkatan tarif sedikit saja akan membuat konsumen berpikir kembali untuk menggunakan ojol.

Ads
"Konsumen menjadi sensitif dan tidak nyaman dengan tarif ojol ini. Peningkatan harga sedikit saja 40 persen konsumen ini akan melakukan rasionalisasi pengeluaran," kata Fithra.

Selain itu, di sektor UMKM yang saat ini banyak mengandalkan ojol akan memiliki kecenderungan mengurangi aktivitasnya. Tentunya ini akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, mengingat, 56 persen dari pertumbuhan ekonomi berasal dari konsumsi.

Sebelumnya, diketahui rencana pemerintah menaikkan tarif ojek online diprediksi akan banyak memiliki dampak negatif ketimbang positif. Hal ini akan menimbulkan shock terhadap konsumsi tersebut dan diduga akan berpotensi menurunkan ekonomi untuk ke depannya.***