BENGKALIS, GORIAU.COM - Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr Hani, Kamis (2/6/2015) menemui Wakil Bupati H Suayatno dan sejumlah pejabat terkait lainnya. Pertemuan di lantai II Kantor Bupati tersebut, membahas tentang persoalan kebakaran hutan dan lahan akibat keringnya lahan gambut serta langkah penanganan rekayasa yang akan dilakukan.


Hani tidak sendiri, ada tim yang tergabung dalam pertemuan tersebut yang sebelumnya sudah melakukan kajian di Kampung Jawa Kelurahan Sei Pakning Kecamatan Bukit Batu. Selain dari BNBP, juga hadir dari UNDP dan pakar gambut Universitas Riau, Dr Haris Gunawan, serta perwakilan dari perusahaan (PT Surya Dumai).


Secara singkat, Hani menyampaikan sinopsis tentang penanganan darurat pemulihan gambut dari kondisi yang sengat kritis saat ini. Persoalan yang dihadapi beberapa wilayah di Bengkalis sangat serius untuk itu dalam waktu dekat atau sampai September mendatang akan dibangun 50 unit block kanal di wilayah Kecamatan Bukit Batu dan sekitarnya termasuk Rupat.


''Untuk mengembalikan watak gambut kepada kondisi asalnya secara masif dalam waktu dekat ini akan sulit dilakukan, tapi paling tidak sesuai keinginan pak Presiden sampai bulan September nanti sudah ada progres yang bisa kita lakukan. Kendati hanya beberapa desa saja yang bisa kita tangani,'' ujar Hani.

Ads

Seperti saat tinjauan ke Kampung Jawa Kelurahan Sei Pakning Bukit Batu kata Hani, kondisi kekeringan desa tersebut sangat parah. Sesuai pengakuan warga dulu mereka memanfaatkan parit-parit (kanal) untuk mandi dan mencuci, tapi dalam beberapa tahun terakhir kanal-kana di kampung tersebut semuanya kering.


''Setelah kita selidiki, ternyata penyebabnya adalah pembuatan kanal-kanal oleh prusahaan perkebunan yang ada di sekitar kampung tersebut. Harus ada penanganan serius, kita inginnya masyarakat selamat, perusahaan selamat dan alamnya juga selamat. Untuk itu, besok kita rencanakan akan menemui pihak perusahaan,'' ujar Hani lagi.


Sementara itu Dr Ning dari BNBP menyampaikan, pihaknya sudah mengkaji upaya-upaya yang harus dilakukan, salah satunya adanya membangun block-block kanal di loksi yang tidak jauh dari sumber atau titik air. Termasuk menghitung dimensi air yang ada d i sekitar lokasi yang akan dibuat kanal.


''Watak asli gambut itu seperti apa kita semua tahu itu, tempatnya lembab dan basah, menyimpan banyak kandungan air. Dan kami lihat kondisi di Kampung Jawa itu sudah sangat parah keringnya, karena adanya kanal-kanal perusahaan itu tadi. Untuk itu, untuk mengembalikan gambut ke watak aslinya harus dibuat block-block kanal di kawasan iu,'' ujar Ning.


Dr Haris Gunawan dari Universitas Riau mengatakan, harus ada pembagian air di Kampung Jawa. Artinya, kanal yang dibuat oleh perusahaan sejatinya tidak membuat air-air di Kampung Jawa menjadi kering. ''Karena itu untuk mengatasi persoalan ini kita harus keroyokan, melibatkan semua yang ada di sekitar wilayah itu, tidak bisa sendiri-sendiri,'' ujar Haris.


Haris bahkan mewanti-wanti, jika tidak segera dilakukan penanganan serius, dijangkakan beberapa tahun ke depan, kawasan di pesisir pulau Sumatra (Bukit Batu dan sekitarnya) akan mengalam kekeringan teramat parah.


''Maka ledakan kebakaran dan kabut asap akan semakin besar dari apa yang pernah trjadi sebelum ini. bahkan jika satu bulan ke depan tidak turun hujan, debit air yang ada di kanal-kana PT Surya Dumal juga akan jauh berkurang,'' jelasnya.


Untuk mengatasi persoalan tersebut, salah satu rekayasa yang bisa dilakukan adalah membangun kanal-kanal d di sejumlah titik. Fugsinya agar kawasan gambut kembali ke watak aslinya. ''Kanal-kanal seperti ini sudah kami buat di Meranti, alhamdulillah sudah nampak hasilnya. Jadi sesuai instruksi presiden, langkah cepat harus kita lakukan sebelum musibah yang lebih besar terjadi di daerah kita,'' sarannya.


Sebelumnya, Wakil Bupati Bengkalis, H Suayatno mengatakan, Pemkab Bengkalis sangat konsen menangani persoalan Karhutla. Mulai dari pembentukan MPA di sejumlah desa, membuat embung di beberapa lokasi dan sejumlah rekayasa lainnya.


Dia juga berharap rekomendasi dan masukan yang dihasilkan dari pertemuan ini bisa diimplementasikan di lapangan, sehinga imej Bengkalis sebagai penghasil asap setiap tahunnya bisa dihilangkan.(ail)