
JAKARTA - Belakangan ini terungkap banyak istri pejabat yang senang memamerkan barang-marang mewah di media sosial. Di antara barang-barang mewah yang mereka pamerkan adalah tas seharga puluhan hingga miliaran rupiah.
Dikutip dari Kompas.com, Kamis (7/4/2023), psikolog sekaligus Founder Bliss Happiness Clinic, Ratri Kartikaningtyas, M.Psi, mengatakan, perilaku mengoleksi tas mewah sebenarnya bisa menjadi hal yang wajar ketika kondisi finansial seseorang mendukung.
"Sebenarnya seperti koleksi barang seni, itu kan juga tidak murah," terangnya kepada Kompas.com.
Namun kesukaan pada tas branded mahal menjadi tidak wajar ketika seseorang merasa harus memilikinya dan memiliki keinginan kuat untuk memamerkannya kepada orang lain.
"Dalam hal ini tidak wajar karena sudut pencitraannya itu," terang Ratri.
"Menjadi tidak wajar karena kebutuhan pencitraan sangat berlebihan untuk mendapatkan perasaan berharga atas dirinya sehingga impulsif memiliki puluhan hingga ratusan," tambahnya.
Hal ini tidak hanya berlaku pada tas mahal buatan desainer saja namun juga barang mewah lainya seperti mobil, motor hingga sepeda yang sempat tren beberapa waktu lalu.
"Bukan hanya soal jumlahnya namun juga kebutuhan pencitraannya," kata Ratri.
Kecenderungan memiliki tas mewah untuk pencitraan akan membuat seseorang merasa gelisah jika tidak membelinya. Ratri mengatakan ada dua perspektif yang berpengaruh yakni secara individu dan sosial.
Secara individu, ia mengalami krisis percaya diri, kebutuhan untuk diakui, dan kesulitan untuk merasa dirinya berharga.
Selain itu, tas branded dijadikan sebagai identitas sosial atau cara meraih status sosial tertentu.
"Bisa jadi seorang individu kurang nyaman dengan hal tersebut, namun ia butuh masuk dan diterima oleh kelompoknya karena hal ini menjadi simbol identitas kelompok tersebut," terangnya.
Kepemilikan tas mahal membuatnya lebih percaya diri, merasa berharga, punya kebanggaan dan eksistensi diri.
"Padahal eksistensi bisa diperoleh dengan pengembangan kepribadian bukan kepemilikan barang," pesan Ratri.
Kecenderungan tidak wajar ini bisa dikenali dari perilaku sehari-hari pemiliknya, termasuk lewat unggahan media sosialnya. Misalnya ketika mereka terus-terusan hanya menunjukkan perilaku terkait kepemilikan barang tersebut dan tidak pernah menampilkan aktivitas lainnya.
"Istilahnya semuanya terkait kepemilikan barang tersebut, tidak ada aktivitas lain yang ditonjolkan, yang dipamerkan cuma barang itu," urai Ratri.
Meski demikian, Ratri menilai jika kecenderungan mengoleksi tas mewah yang tergolong tidak wajar ini bukan suatu gangguan perilaku. Hanya saja, tetap ada kerugian yang bisa berdampak pada orangnya maupun keluarga.
Misalnya stabilitas ekonomi keluarga yang rusak akibat pengeluaran berlebihan dan perasaan gelisah serta tidak berharga.
Sedangkan bagi orang di sekitarnya, imbas negatifnya dirasakan ketika orang tersebut berkompetisi dengan menghalalkan segala cara demi mendapatkan tas mewah incarannya.***