WASHINGTON DC - Periode jeda pertempuran selama satu bulan antara Washington dan Teheran resmi berakhir pada akhir pekan lalu. Kedua angkatan bersenjata kembali berbalas serangan, disusul dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mengklaim tindakan militer negaranya adalah untuk memagari Timur Tengah dan peradaban Barat.
Rangkaian pertempuran bersenjata ini kembali terbuka saat pasukan AS menghancurkan armada peluncur roket Iran di Pulau Larak. Tidak tinggal diam, Teheran mengarahkan misil balasannya ke titik penempatan militer AS di Yordania serta Uni Emirat Arab. Siklus saling membalas operasi militer ini masih terus berlangsung dengan kedua belah pihak melontarkan dalih perlindungan.
Menyikapi tensi yang kembali mendidih itu, Trump memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik internasional. "Kita melakukannya untuk membantu Timur Tengah," jelasnya melansir laporan Anadolu Agency, Kamis (3/9/2026).
Ia menyebut potensi ekspansi pergerakan Teheran bisa mengancam stabilitas banyak pihak jika tidak dicegat lebih awal. "Kita melakukannya untuk membantu Israel. Kita melakukannya demi kepentingan kita sendiri, karena setelah mereka memusnahkan Israel, sesuatu yang akan dengan senang hati mereka lakukan, dan kemudian Timur Tengah, mereka akan mengincar Eropa dan mereka mengincar beberapa kota kita," tambahnya.
Mengantisipasi kekhawatiran yang timbul, ia secara khusus berbicara melalui jaringan media Israel, KAN. "Israel tidak perlu khawatir. Anda tahu kenapa? Karena saya adalah presidennya dan saya akan menjaga Israel," ucapnya.
Ia menempatkan jabatannya sebagai tameng utama dan menyatakan peran sentralnya dalam konstelasi politik Timur Tengah. "Tanpa saya, tidak akan ada Israel," tekannya.***


