RENGAT- Pasca diketahui mengalami rasionalisasi akibat berkurangnya DBH (Dana Bagi Hasil) dari sektor Migas, Pemkaab (Pemerintah Kabupaten) Indragiri Hulu, Riau mengaku masih melakukan penghitungan terhadap sejumlah anggaran.

"Akibat menurunnya penerimaan daerah tersebut, beberapa mata anggaran menjadi bergeser. Dengan demikian, kita akan melakukan penghitungan ulang dan akan kita sampaikan ke DPRD Inhu," ujar Sekda Inhu H Agus Rianto kemaren.

Sebelumnya, APBD Inhu sudah disahkan sebesar Rp1,8 trilyun lebih. Dan akibat turunnya harga minyak dunia, diperkirakan jumlah itu akan berkurang sekitar Rp254 miliar lebih, sebutnya.

Namun demikian, Pemkan Inhu masih optimis bahwa APBD Inhu saat ini masih dapat mencukupi untuk kebutuhan program pembangunan Inhu. Dan tentunya perlu ada kebijakan dan perlu ada langkah-langkah untuk menyikapi hal tersebut.

Sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan yakni, lebih menggali potensi pada pendapatan daerah dari berbagai sektor, seperti dari sektor perkebunan. Sebab, potensi pada sektor perkebunan ini sangat besar dibanding sektor lainnya, tegasnya.

"Bila potensi ini digali dengan lebih maksimal dan fokus, tentunya pendapatan daerah bisa semakin ditingkat dan APBD kita tidak bergantung lagi sepenuhnya pada DBH Migas tersebut," tutur Agus Rianto.

Masih katanya, jika dulunya cakupan luas wilayah Inhu ini saat luas, karena tergabung dengan Kabupaten Kuansing, anggaran yang ada tidaklah sebesar saat ini, namun Inhu masih bisa membangun.

Dan ketika luasan wilayah itu sudah berkurang, tentunya dengan jumlah APBD yang jumlahnya mencapai hampir dua triliun rupiah itu, tentu juga akan bisa dan cukup untuk pembangunan. "Kalupun tidak cukup, kita cukup-cukupkan," sebutnya optimis.

Ditambahkan Agus Rianto, dalam istilah APBD tidak ada yang mananya pengutangan. Karena sudah disahkan melalui sidang paripurna DPRD. Sehingga dengan kondisi yang ada saat ini, lebih tepatnya daerah mengalami pergeseran anggaran.

Dengan adanya pergeseran tersebut, dalam pembangunan tentunya harus mendahulukan pelaksanaan program yang menjadi skala prioritas. Dan pada triwulan berikutnya, sejumlah program yang digeser itu tentu akan bisa dilaksanakan, tuturnya.

"Jika kita hitung, akibat harga minyak dunia saat ini hanya mencapai 30 USD/barel. Jumlah pendapatan Inhu dari sektor Migas itu menurun sebesar lebih kurang Rp254 miliar," pungkas Agus menerangkan.***