
SELATPANJANG - Sebanyak 26 guru garis depan (GGD) yang akan mengabdi di Kepulauan Meranti tiba di Selatpanjang akhir Bulan Juli 2017. Mereka telah mengikuti pertemuan dengan Pemda Kepulauan Meranti tanggal 1 Agustus 2017.
Pertemuan itu digelar di Aula Kantor Bupati Kepulauan Meranti. Dihadiri langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Kepulauan Meranti Yulian Norwis, Kadisdikbud Rosdaner, Kabid Syafrizal dan Yulendri. Hadir juga dari pihak BKD, Sekretaris Bakharuddin dan Kabid Mutasi Hery Saputra serta Said Sholahuddin.
Menanggapi kedatangan 26 GGD, kata Icut, ini merupakan salah satu perhatian pemerintah pusat (Pempus) terhadap daerah perbatasan (terluar/ terdepan). Kepulauan Meranti yang merupakan wilayah terdepan ini diberikan kuota sebanyak 26 GGD yang akan mengabdi di SD dan SMP (13 SD dan 13 SMP).
"Kita harap dengan tambahan guru baru ini mutu pendidikan di Kepulauan Meranti bisa lebih bagus dan maju kedepannya," kata Icut, sapaan akrab Yulian Norwis.
Dikatakan Icut lagi, kedatangan 26 GGD ini cukup membantu dunia pendidikandi Kota Sagu. Namun, jumlah itu belum pula mencukupi sesuai kebutuhan daerah. "Kita masih banyak butuh kedepannya. Mungkin keterbatasan dan kemampuan pusat, tapi Alhamdulillah dengan adanya guru baru ini sangat membantu," ujar Icut.
Di tempat yang sama, Kabid Mutasi BKD Kepulauan Meranti Hery Saputra mengatakan CPNS GGD ini minimal mengabdi di Kota Sagu selama 10 tahun. Jika ada yang mengajukan pindah akan dikenakan sanksi yaitu membayar Rp250 juta ke kas daerah.
Salah seorang GGD yang ditemui awak media, Shinta Romaulina, mengaku bahwa Kepulauan Meranti di luar dugaannya. Kata Shinta, sebelumnya ia mencari tahu tentang Meranti.
Di internet, digambarkan bahwa Meranti daerah baru pemekaran. Berdekatan dengan Malaysia, Batam, Singapore. Ia pun menduga daerah baru mekar ini begitu tertinggal. "Ternyata setelah sampai di sini berbeda dengan gambaran saya. Saya fikir masih minim infrastrukturnya. Kalau untuk daerah pemekaran ini cukup maju," kata sarjana lulusan Semarang itu.
Di Kepulauan Meranti, Shinta akan mengajar di SDN 19 Batangmeranti Pulau Merbau. Sebelumnya ia mengajar di Ende Flores dalam program Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar, dan terpencil.
Sementara itu, salah seorang GGD laki-laki malah salah tebak sifat Kadisdikbud Rosdaner. Diakuinya, awal melihat ia menduga Rosdaner pendiam dengan perawakan agak sanger. Namun, lagi-lagi GGD salah menilai.
Laki-laki yang akrab dipanggil Om Daner itu rupanya sangat baik dan bersahabat. Sehingga mereka pun terkesan saat pertemuan itu. "Saya fikir pendiam, ternyata asyik orangnya," kata GGD bertubuh gempal itu sambil tertawa.
Menanggapi ini, Om Daner hanya tersenyum. Katanya, tak perlu sanger-sanger dalam kehidupan sehari-hari. Karena, menurutnya itu akan menjauhkan diri dari rezeki.
Ditambahkan Rosdaner, sebagai pejabat memang harus berusaha melayan, menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik. Itu harus dilakukan secara kekeluargaan. "Kita inikan mitra. Biar santai bekerja yang penting perintah jalan, selesai, dan tak bermasalah. Kita harus bersahabat agar mereka simpatik dan betah nantinya," ujar Rosdaner, Rabu (2/8/2017). ***