
PEKANBARU - Perwakilan pengunjuk rasa dari pihak driver online di Pekanbaru Kristiandi Panjaitan menyebutkan, sudah lebih dari 200-an kasus terjadi dan dialami para sopir online, mulai dari intimidasi bahkan penganiayaan yang diduga dilakukan oknum taksi konvensional selama ini.
Itu terjadi khususnya di area Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Banyak dari mereka yang mengalami perbuatan tak menyenangkan, mulai dari intimidasi hingga kekerasan yang dilakukan oknum taksi konvensional, padahal bukan dalam tujuan menjemput orderan.
"Laporan yang kita diterima, sudah lebih dari 200 an kejadian khususnya di bandara. Permasalahan terjadi saat mobil online ditandai, apa salah menjemput keluarga kami menggunakan fasilitas yang kami miliki, itu padahal secara offline," tuturnya usai aksi unjuk rasa di DPRD Riau pada Senin (5/2/2018) siang.
Permasalahan ini lah yang akhirnya membuat perwakilan driver online di Pekanbaru meminta pihak dewan untuk memediasi mereka dengan pihak-pihak terkait, guna membahas penyelesaiannya. Pihak Dewan pun berjanji, akan memfasilitasi pertemuan tersebut secepatnya.
"Kita ingin dimediasi dengan pihak terkait ini, misalnya Dishub, Organda dan rekan-rekan dari taksi konvensional lainnya, karena sering terjadi bentrokan dan ini harus segera ditengahi, sampai kapan akan terjadi kalau masalah ini tidak diselesaikan," ujarnya.
Bagi pihak driver online, pertemuan yang direncanakan dewan ini merupakan win-win solution untuk mengakhiri permasalahan tersebut, sehingga ada kejelasan ke depannya. Menurut mereka, kenapa tidak boleh masuk ke bandara untuk menjemput keluarga dan dalam posisi offline (Bukan orderan,red).
Aksi massa yang digelar para driver online di gedung DPRD Provinsi Riau siang tadi berlangsung kondusif. Mereka ditemui oleh perwakilan anggota dewan, yang berjanji akan memanggil pihak terkait untuk membahas point tuntutan tersebut. ***