
DURI - Sebagai penggagas pembangunan pabrik Tapioka di Kecamatan Mandau dan Pinggir, Hasan Basri yang juga mantan Camat Mandau ini mendapat kritikan pedas dari masyarakat. Ia bahkan dituding telah mengorbankan para petani singkong dengan memberikan harapan dan janji palsu, karena hingga kini pabrik yang dimaksud belum juga berdiri.
Menanggapi tudingan tersebut, Hasan Basri yang juga Ketua Masyarakat Singkong Mandau (MSI) Provinsi Riau kepada GoRiau.com (GoNews Grup) sangat mengapresiasi para petani yang sudah bersemangat menanam singkong sejak dirinya mendeklarasikan akan membangun pabrik Tapioka di wilayah Mandau dan Pinggir.
"Saya tidak memberikan janji palsu seperti yang dikatakan pemuka masyarakat Mandau pada sejumlah media baru-baru ini. Tudingan tersebut tidak benar, bahkan saya juga ingin tahu petani mana yang mengaku saya rugikan," ujar Direktur PT Berkah Cassava Indonesia Makmur, Jumat (24/3/2017).
Lebih tegas lagi, Hasan mengatakan bahwa dirinya tidak hanya asal bicara saja tanpa aksi. Dia sudah melakukan upaya nyata ke arah itu. Izin prinsipnya sudah diajukan ke Pemkab Bengkalis. Bahkan lahan untuk pabrik sudah ditinjau pihak terkait.
Sejauh ini, dalam prosesnya tidak ada masalah. Bahkan investornya pun juga tidak akan menunda pembangunan pabrik ini jika izin prinsip terbit dan perizinan lain selesai.
"Saya optimis pabrik tapioka dengan kapasitas 1.000 ton per hari itu bisa segera didirikan di Mandau ini. Sementara petani singkong di Mandau dan Pinggir bisa menjual hasil panennya ke Pabrik Tapioka yang berdiri di Petapahan, Kandis, Siak dengan kapasitas 500 ton perharinya dan rencananya akan beroperasi Juni 2017," terang Pria yang rela melepas status PNS nya demi mengembangkan usaha dibidang pertanian khususnya singkong.
Pembangunan pabrik Tapioka di Mandau ini, Hasan juga tidak terlalu berharap 1 rupiah pun APBD Bengkalis. Pembangunan pabrik tapioka ini multiplier effectnya akan sangat banyak. Ampas tapioka itu nanti bisa untuk pakan puluhan ribu ekor ternak sapi. Sedang limbah cairnya untuk biogas.
Selain itu juga, Hasan juga menyampaikan kepada pemda Kabupaten dan Kota di Riau bahwa jika singkong ditanam di lahan 3000 hektar perdaerah maka akan dapat berdiri pabrik tapioka kapasitas 500 ton per hari dan tentunya akan membuka lapangan kerja untuk 3.000 kk.
"Limbah padat yang dihasilkan 50 ton perhari bisa dimanfaatkan juga untuk pakan ternak 10 ribu ekor, dan ternak tidak hanya hasilkan daging tapi juga pupuk kompos 50 ton per hari dari kotoran ternak serta pupuk organik cair dari air kencing sapi. Sehingga petani singkong memperoleh pupuk yang murah dan unsur hara tanah pun dapat dipertahankan," katanya menjabarkan dengan rinci.
Sisi lain yang bermafaat dengan keberadaan pabrik tapioka ini adalah limbah cairnya yang bisa dijadikan biogas yang menghasilkan energi listrik untuk kebutuhan pabrik dan untuk masyarakat.
"Semua limbahnya bisa dimanfaatkan, baik untuk lahan singkong maupun untuk lainnya. Tinggal bagaimana mekanisme kerjanya dijalankan dengan benar. Hal ini tentunya membutuhkan restu dari pemerintah setempat, dengan cara memberikan izinnya. Jika tidak, tentu tidak akan ada investor yang akan mau menanamkan investasinya yang mencapai ratusan miliar rupiah," beber Hasan lagi.***