
BENGKALIS - Riau memiliki hampir kekayaan alam yang bernilai ekonomis. Di dalam perut bumi ada minyak bumi, batubara, emas dan bahan tambang lain. Sementara di atasnya terhampar kekayaan hutan, perkebunan dan pertanian.
Kekayaan yang dimiliki Riau berbanding lurus dengan sumbangsih yangdiberikan untuk negara ini. Karena kekayaan alam Riau pula, banyakpemilik berbondong-bondong berinvestasi ingin ikut menikmati kekayaanalam yang ada.
"Konstribusi pertambangan jadi andalan perekonomian di Riau, termasukjuga sektor pertanian yang menjadi salah satu motor penggerak ekonomirakyat, tidak hanya mampu memberikan kontribusi besar terhadapperekonomian lokal, tapi juga bisa menyerap banyak tenaga kerja, "ujar Koordinator Investigasi Masyarakat Peduli Listrik(MPL), Ramdani kepada wartawan, Minggu (15/5/2016).
Sayang, kondisi tersebut kata Ramdani, tidak berbanding lurus dengankondisi infrastruktur dasar terutam pasokan listrik untuk Riau.Sebagian besar daerah di Riau masih byar fet, terutama di sejumlahkawasan pesisir yang belum terjangkau jaringan Sutet.
"Sayangnya, di provinsi ini kebutuhan listrik masih defisit. Rakyat terus bertambah setiap tahun, daerah ini masih terus dibelit persoalan defisit pasokan listrik. Sehingga menjadi hal yang biasa jika suasana malam hari di sebagian besar wilayah Riau masih gelap gulita ," ujar Pria bertubuh gempal ini.
Menurut Ramdani, ternyata tidak hanya itu persoalan di Riau, malahdaerah-daerah yang telah menikmati aliran listrik sekalipun ternyatamasih terlalu sering ada pemadaman yakni sekitar dua sampai tiga kalisehari mengalami pemadaman secara bergilir. Lama mati lampu rata-ratahampir enam jam. Ini sudah masuk kategori sangat tidak normal untukwilayah yang padat penduduk dan memiliki bangunan yang permanen danmegah.
"Itu semua terjadi sebagai dampak dari pasokan listrik yang masihjauh dari harapan, kondisi kelam itu masih belum ditambah dengansituasi ketika beban puncak pemakaian yang bisa mencapai 225,80 MegaWatt," ujar Ramdani.
Menurut Ramdani, beban puncak tersebut belum dapat dipenuhi ataudidukung oleh pasokan listrik yang memadai walau sudah ada limapembangkit di provinsi ini, karena ternyata lima pembangkit listrikitu hanya mampu memasok 190,8 MW.
"Meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang 114 MW,Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Teluk Lembu 43,3 MW, PembangkitListrik Tenaga Diesel (PLTD) Teluk Lembu 7,5 MW, PLTD Dumai atau BaganBesar 8 MW dan PLTG Riau Power 20 MW. Jadi, listrik di Riau masihdefisit sampai 135,47 MW," papar alumni Universitas MuhammadiyahSumatera Utara (UMSU).
Menurut analisa Ramdani, sebenarnya dengan proyek pembangunan 10.000MW tahap pertama, minimnya pasokan listrik Riau bisa sedikit diatasi.Pasokan baru itu bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),sehingga bisa mendapat tambahan 2x100 MW sejak 2011 lalu.
''Itu sama sekali tidak pernah terwujud karena PLN (Persero) sampai dengan hari ini sama sekali tidak terlihat berhasil merealisirnya," sambung Ramdani.
Untuk menekan persoalan kelistrikan di Riau, seluruh PemerintahKabupaten/Kota bersama Pemerintah Provinsi, harus mendorong PT PLN(Persero) mewujudkan penambahan pasokan 2x100 MW.
"Seharusnya sinergitas seluruh Pemda tentu akan dengan mudah untukbisa maksimal menekan PT PLN (Persero) untuk sesegera mungkinmewujudkannya," ujar Dani.***