DURI, GORIAU.COM- Dua ruas jalan di Kota Duri, Kecamatan Mantau, Bengkalis, Riau, yakni Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Hangtuah, selalu terlihat bersih. Kebersihan kedua ruas jalan utama di Kota Minyak tersebut bisa selalu terjaga karena ada sejumlah petugas yang rutin menyapunya setiap hari. Mungkin tidak banyak orang yang peduli dengan nasib mereka, namun semua pengguna jalan bisa menikmati hasil pekerjaan para penyapu jalan tersebut.

Untuk menjaga kebersihan jalan tersebut, para penyapu jalan tidak hanya terpaksa 'bergelut' dengan debu yang bearkibat membahayakan kesehatannya, namun juga terancam terserempet atau tertabrak kendaraan yang ramai melintas. Sepanjang hari, ruas jalan tersebut memang selalu ramai dilewati kendaraan, termasuk truk-truk berukuran besar. Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa para penyapu jalan itu bersabung nyawa dalam mencari nafkah. Sebab, mungkin saja sewaktu-waktu mereka kehilangan jiwanya karena tertabrak kendaraan yang melintas.

Jadwal kerja para penyapu jalan tersebut adalah pagi, siang dan sore. Yang mereka sapu berupa pasir, plastik, puntung rokok, tisu, bungkus rokok dan sampah jenis lainnya.

Sinar, yang sudah berumur setengah abad, mengaku sudah melakoni pekerjaan sebagai tukang sapu jalan sejak tahun 2011 lalu. Wanita berjilbab itu selalu memakai masker saat menyapu jalan, untuk mencegah mulut dan hidungnya menghirup debu.

Wearpack (pakaian) pembungkus tubuhnya yang mulai keriput, didominasi warna oranye dengan perpaduan warna biru, agar lebih mudah terlihat oleh pengguna jalan raya. Sinar juga memakai sepatu boot karet warna hitam agar tidak terasa panas saat menginjak aspal. Saat ia menyapu di Jalan Sudirman, beberapa hari lalu, banyak kendaraan lalu lalang, sebagian melaju dengan kecepatan tinggi. Kadang mobil yang melintas hanya berjarak beberapa senti meter saja dari dirinya.

Sinar menyadari pekerjaannya sangat berisiko tersenggol bahkan tertabrak kendaraan yang melintas, namun tetap harus dijalaninya, karena tak punya pilihan pekerjaan lainnya. "Saya terpaksa bekerja seperti ini untuk cari makan," ungkap janda beranak lima itu, kepada GoRiau.com, Kamis (20/8/2015).

Meskipun kelima anaknya sudah bekerja, ia tetap harus mencari uang untuk mencukupi kebutuhannya. Sinar mengaku menerima gaji Rp1,6 juta setiap bulan sebagai imbalan atas pekerjaan yang berisiko tersebut.

"Rasa takut itu ada. Makanya, saya harus sering-sering melihat kendaraan yang melintas. Apalagi di Jalan Sudirman, banyak kendaraan yang kencang-kencang," sambungnya, sambil beranjak ke pinggir jalan untuk menghindari mobil yang melintas.

"Gajinya memang tidak besar, tapi yang penting cukup buat makan," pungkasnya.

Sinar dan para penyapu jalan lainnya di Kota Duri, merupakan tenaga harian lepas (THL). Data yang dirangkum melalui Dinas Pasar dan Kebersihan Kabupaten Bengkalis, ada 869 penyapu jalan di delapan kecamatan se Kabupaten Bengkalis. Untuk Kecamatan Bengkalis ada 364 orang, Mandau 317 orang, Bukitbatu 54 orang, Bantan 43 orang, Pinggir 36 orang, Rupat 25 orang, Siak Kecil 22 orang dan Rupat Utara 8 orang.

"Penyapu jalan sudah kita lengkapi dengan sarung tangan, sepatu boot, pengki, sapu, helm, kaca mata dan wearpack (pakaian). Kadang mereka lalai tidak menggunakan semua itu," ungkap Kepala Dinas Pasar dan Kebersihan Kabupaten Bengkalis Indra Gunawan saat dikonfirmasi GoRiau.com melalui Kabid Kebersihan Drs Abdul Kadir MSi.

Abdul Kadir mengakui, para penyapu jalan di Jalan Sudirman Kota Duri berisiko tersenggol atau tertabrak kendaraan. "Kita akan menyiapkan rambu-rambu peringatan untuk penyapu jalan di Kota Duri. Ya, memang harus ada rambu, demi keselamatan," ujarnya lagi.

Semoga saja rambu-rambu untuk keselamatan para penyapu jalan itu segera terpasang sebelum ada yang jadi korban.ric