HUTAN PANJANG, GORIAU.COM - Bupati Bengkalis, H Herliyan Saleh membuka Festival Budaya Suku Akit se- Riau yang digelar di Desa Hutan Panjang, Kecamatan Rupat, Minggu (25/8).

Kegiatan ini diikuti perwakilan Suku Akit dari Kabupaten Bengkalis, Kota Dumai, Kepulauan Meranti dan Kabupaten Siak. Acara pembukaan disaksikan ribuan orang suku Akit se-Riau. Sekda Bengkalis H Burhanuddin dan sejumlah pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemkab Bengkalis juga hadir.

Bupati atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten bengkalis menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas penyelenggaraan estival Budaya Suku Sakit di Desa Hutan Panjang. Kegiatan ini sebagai wujud nyata upaya pelestarian dan pengembangan nilai seni dan budaya di Provinsi Riau,khususnya Kabupaten Bengkalis.

Menurut Bupati, selama ini kita ketahui bahwa orang Akit atau orang Akik, adalah kelompok sosial yang berdiam di daerah Hutan Panjang. Sebutan "Akit" diberikan kepada masyarakat ini karena sebagian besar kegiatan hidup mereka berlangsung di atas rumah rakit. Dengan rakit tersebut Suku Akit berpindah dari satu tempat ke tempat lain di pantai laut dan muara sungai.

Keberadaan Suku Akit dibuktikan dengan adanya catatan sejarah yang menyebutkan bahwa mereka pernah menjalin hubungan dengan Kesultanan Siak dalam menghadapi perlawanan pasukan Eropa. Pasukan belanda yang mencoba menanamkan pengaruhnya di daerah ini tercatat mengalami beberapa perlawanan dari Orang Akit. pasukan Akit dikenal dengan senjata tradisional berupa panah beracun dan sejenis senjata sumpit yang ditiup.

''Seiring perjalanan waktu, kebudayaan suku pedalaman yang hidup di sejumlah kabupaten di Riau pada umumnya mulai tergerus oleh pengaruh dari budaya luar. Untuk itu pemerintah bersama elemen masyarakat terus berupaya mengambil langkah pencegahan untuk melindungi kebudayaan suku pedalaman atau suku terasing yang ada di daerah ini," ujar Bupati.

Ditambahkan Bupati, selama ini Suku Akit di Pulau Rupat tidak hanya dikenal di Riau, namun telah menyebar di Kepulauan Riau bahkan keberadaan Suku Akit juga sudah diketahui secara nasional. Hal ini berkat upaya para pengajar muda Indonesia yang pernah mengabdi di Pulau Rupat.

''Ke depan, agar keberadaan Suku Akit tidak terus terbelakang maka pemerintah mendorong agar anak-anak suku akit untuk sekolah, tidak hanya sampai pada jenjang SD, tapi juga ke jenjang yang lebih tinggi. Berbicara tentang pengembangan dan pelestarian budaya Akit, menjadi suatu hal yang tidak bisa ditawar. Apa lagi pada zaman modern ini, khususnya generasi muda sekarang yang sedang berada dalam pengaruh budaya luar, yang masuk tanpa bisa ditolak sebagai akibat dari arus informasi dan globalisasi, maka pengembangan budaya yang berakar pada budaya setempat, memang harus digalakkan,'' ujar Bupati.

Dengan menggalakkan seni yang berakar dari tradisi, maka generasi muda akan mempunyai penyaring sebagai media penyeimbang, sehingga mereka akan tetap tumbuh dan berkembang menjadi sebuah generasi yang tidak kehilangan jati diri.jfk