TELUKKUANTAN - Sejak beberapa hari terakhir ini, eks mobil operasional Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan berkeliaran di Kota Telukkuantan. Ternyata, mobil dengan nomor polisi BM 1307 K tersebut dipakai oleh Chaidir Arifin.

"Bagaimana Mursini - Halim ini, katanya mobil tersebut dipergunakan untuk eselon III. Kok malah dikasih sama Chaidir Arifin yang bukan siapa-siapa," ujar warga yang tak ingin disebutkan namanya kepada GoRiau.com, Senin (1/8/2016) pagi.

Chaidir Arifin merupakan mantan Ketua Tim Sukses Mursini - Halim saat maju di Pilkada 2015 lalu.

Pria yang ikut berjuang memenangkan Mursini - Halim saat Pilkada lalu mengaku tidak setuju dengan langkah Chaidir Arifin yang meminta mobil dinas. "Saya yakin, dia yang minta ke bupati atau pak bupati."

"Padahal, ini akan memperburuk citra Mursini - Halim di tengah-tengah masyarakat. Seharusnya, Chaidir tak usah meminta dan kalau diberi, sebaiknya menolak. Memang saat ini dia sebagai Ketua Pacu Jalur, tapi tak selayaknya 'merampas' mobil rakyat. Saya menilai, dia ini mencari celah untuk bisa memanfaatkan fasilitas negara," tuturnya.

Senada dengan itu, Mulbastoni Hamzah, politikus PDI Perjuangan yang juga tim sukses Mursini - Halim juga mengaku kecewa dengan pemimpin Kuansing tersebut.

"Kenapa hanya pendidikan yang diambil, sementara UPTD Kesehatan tidak. Ini menjadi tanda tanya bagi kita semua," ujar pria yang akrab disapa Boton ini.

"Saya menilai, langkah Mursini - Halim untuk menarik kendaraan operasional UPTD sudah lari dari visi misi. Dulu kita sangat mengimpikan adanya perbaikan pendidikan. Sekarang kok seperti ini," tutur Boton.

Terkait penarikan kendaraan operasional ini, Sekda Kuansing, Drs. H. Muharman, MPd menyatakan bahwa mobil tersebut akan diperuntukkan untuk pejabat eselon III.

Adapun dasar penarikan tersebut mengacu kepada Permendagri nomor 7 tahun 2006 tentang kendaraan dinas pejabat. Lantas, bagaimana dengan Chaidir?***