SIAK - PT Astra Agro Lestari Tbk terus memperkuat kontribusi industri kelapa sawit dalam mendukung target penurunan emisi nasional secara berkelanjutan.

Langkah ini diwujudkan melalui pengoperasian fasilitas methane capture terbaru di PT Kimia Tirta Utama (PT KTU), Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Kehadiran fasilitas pengolahan limbah mutakhir ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan perusahaan menuju operasional yang semakin ramah lingkungan.

Inisiatif tersebut juga merupakan wujud nyata dukungan korporasi terhadap target Indonesia menuju Net Zero Emission pada masa mendatang.

Peresmian fasilitas methane capture dipimpin langsung oleh Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk, Boy Kelana Soebroto bersama jajaran manajemen.

Acara peluncuran ini turut didampingi oleh Executive in Charge sekaligus Chief of Group Legal Astra, Boy Gemino Kalauserang, dan Chief Technical Officer Astra Agro, Widayanto.

GoRiau

Hadir pula menyaksikan peresmian yakni Chief Agronomy & Sustainability Officer Astra Agro, Bandung Sahari, serta Division Head ESR Astra International, Diah Suran Febrianti.

Fasilitas energi terbarukan ini dirancang khusus untuk mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME).

Proses pengolahan berkelanjutan tersebut bertujuan menangkap gas metana yang selama ini memiliki potensi terlepas begitu saja ke atmosfer bumi.

Gas metana yang berhasil ditangkap kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi hijau untuk mendukung seluruh kegiatan operasional pabrik harian.

"Sebagai bagian dari bisnis agribisnis Astra, Astra Agro menunjukkan bagaimana inovasi dapat memberikan dampak nyata terhadap lingkungan sekaligus mendukung keberlangsungan bisnis," jelas Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk, Boy Kelana Soebroto.

"Fasilitas methane capture ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk menghadirkan operasional yang lebih ramah lingkungan serta mendukung target penurunan emisi Grup Astra," tambahnya.

Pemanfaatan teknologi ramah iklim ini terbukti sejalan dengan komitmen keberlanjutan Astra Agro yang selalu menempatkan dekarbonisasi sebagai fokus utama.

Dengan kapasitas pabrik mencapai 50 ton tandan buah segar (TBS) per jam, fasilitas PT KTU telah memproduksi biogas sebesar 1,17 juta Nm³ hingga Mei 2026.

Dari total produksi tersebut, sebanyak 1,11 juta Nm³ biogas telah dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan bakar boiler untuk menggantikan cangkang sawit.

Pemanfaatan energi ini sukses menghemat penggunaan cangkang hingga 2.564 ton atau setara 3,5 persen dari total TBS yang diolah hingga Mei 2026.

Fasilitas pengolahan limbah ini juga telah berkontribusi mengurangi emisi sebesar 7.444 ton CO₂ ekuivalen dalam lima bulan perdana tahun berjalan.

Proyeksi penurunan emisi dari operasional pabrik tersebut diperkirakan akan menembus angka 28.649 ton CO₂ ekuivalen menjelang akhir tahun 2026.

Unit methane capture di lingkungan PT KTU merupakan fasilitas ketiga yang telah berhasil beroperasi secara penuh di bawah naungan Astra Agro.

Perusahaan menargetkan pembangunan hingga 10 fasilitas serupa secara bertahap sebagai bagian dari peta jalan pengurangan emisi jangka panjang korporasi.

Chief Technical Officer PT Astra Agro Lestari Tbk, Widayanto menyebutkan bahwa langkah taktis ini adalah bagian dari transformasi teknis menuju perkebunan efisien.

"Peresmian methane capture PT KTU bukan sekadar peresmian fasilitas, tetapi merupakan tonggak strategis dalam roadmap penurunan emisi Astra Agro," papar Widayanto.

"Melalui pengelolaan biogas dari POME, kami mengubah potensi emisi menjadi sumber energi yang bermanfaat sekaligus menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan," urainya.

Inisiatif ini dirancang bukan hanya untuk memenuhi kewajiban lingkungan, melainkan transformasi operasional yang mengintegrasikan produktivitas, efisiensi, dan keselamatan kerja.

Pembangunan 10 fasilitas pengelolaan limbah ke depan bertujuan mencapai target pengurangan emisi sebesar 357,66 ribu ton CO₂ ekuivalen di tahun 2030 mendatang.

Capaian positif iklim sebenarnya sudah terlihat saat Astra Agro sukses mencatat penurunan emisi sebesar 439 ribu ton CO2 ekuivalen sepanjang tahun 2025 lalu.

Angka pengurangan emisi tersebut setara dengan 35,65 persen dari total emisi baseline tahun 2019, dengan kontribusi dua fasilitas sebelumnya mencapai 70,4 ribu ton CO2 ekuivalen.

Astra Agro terus membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan guna mengintegrasikan komitmen Sinergi Bumi dan Manusia untuk Satu Indonesia. ***