PEKANBARU – Sebanyak 105 pengusaha laundry dari berbagai kabupaten dan kota di Riau mengikuti kelas bisnis dalam Roadshow Apique Group yang digelar di Grand Zuri Hotel, Pekanbaru, Sabtu (10/5/2025). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha dalam menghadapi tantangan dan persaingan industri laundry yang semakin kompetitif.

Founder dan CEO Apique Group, Apik Primadya, hadir langsung memberikan materi. Apik yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Laundry Seluruh Indonesia (ASLI), menyampaikan pentingnya kesiapan mindset dan strategi bisnis dalam menghadapi masuknya investor asing ke Indonesia.

"Kalau tak meningkat mindset-nya, maka akan terlindas. Kalau tak siap, sebaiknya jangan berbisnis. Karena tanpa kompetitor, kita jadi terlalu santai," ujar Apik.

Dalam sesi tersebut, Apik memaparkan lima tahapan penting dalam pengembangan bisnis laundry, yaitu starting, profiting, systemizing, multiplying, dan investing. Ia menekankan, pada fase awal membangun usaha, pelaku bisnis sebaiknya lebih fokus mengejar omzet ketimbang memikirkan keuntungan langsung.

"Tiga bulan pertama pasti berat. Target impas dulu, untung itu bonus," tambahnya.

Saat ini Apique Group memiliki lebih dari 400 cabang di Indonesia dan telah berkembang menjadi empat entitas bisnis: Apique Laundry, Apique Management, Apique Academy, dan Apique Resiqe.

Sementara itu, Sekretaris DPD ASLI Riau, Owe Riyanto Pratama, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai, seminar semacam ini sangat relevan bagi pelaku usaha laundry di Riau untuk berkembang secara profesional.

“Dari total 97 usaha laundry yang tergabung di DPD ASLI Riau, sekitar 70 persen berasal dari Pekanbaru. Sisanya tersebar di kabupaten/kota lain, termasuk Meranti,” ungkapnya.

Owe menjelaskan, potensi bisnis laundry di Pekanbaru masih sangat terbuka. Dengan asumsi satu juta penduduk dan 250 ribu keluarga, diperkirakan ada sekitar 70–80 ribu keluarga yang membutuhkan jasa laundry. Saat ini, baru 314 usaha laundry di Riau yang memenuhi standar ASLI, seperti penggunaan sistem aplikasi, SOP karyawan, dan manajemen yang terstruktur.

"Masih banyak peluang yang bisa digarap, karena sekitar 20 persen kebutuhan belum terpenuhi," tutupnya. (ant)