JAKARTA - Kuasa hukum tersangka kasus tata kelola Makan Bergizi Gratis (MBG), Krisna Murti mengungkap fakta mengejutkan dari kliennya, mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya. Dalam upayanya mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC), Sony membongkar dugaan proyek fiktif pengadaan sewa 5.000 CCTV dan alat sidik jari (fingerprint) senilai Rp 300 miliar di lingkungan BGN. Keterangan ini disampaikan di gedung Jampidsus Kejagung RI, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).

"Ada lagi yang lebih menarik, tadi Pak Sony mengungkap yang lebih besar daripada kerugian negara. Apa? Jadi sebelum Pak Sony masuk, itu ada kontrak yang namanya CCTV dengan pengadaan sidik jari," terang Krisna Murti.

Proyek Alih Daya Ratusan Miliar

Krisna menjelaskan bahwa proyek pengadaan ini diserahkan kepada pihak ketiga untuk menunjang fasilitas di ribuan titik layanan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG).

"Jadi satu SPPG, dia memasang lima CCTV. Jadi di-outsourcing. Jadi BGN itu meng-outsourcing kepada sebuah vendor dengan pengadaan itu totalnya sekitar Rp 300 miliar lebih. Dengan 5.000 titik, 5.000 SPPG, yang harus dipasang CCTV dan sidik jari. Dan berakhir kemarin tanggal 19 Februari 2026 kontraknya telah berakhir," jelasnya.

Gagal Buktikan Pemasangan

Kontrak sewa tersebut ternyata sudah berjalan sebelum Sony Sonjaya memegang jabatan di BGN. Menjelang masa kontrak habis, ia meminta pihak vendor membuktikan hasil kerja mereka di lapangan, khususnya di salah satu sekolah dasar.

"Nah, sebelum kontrak itu berakhir, Pak Sony memanggil vendor itu. Ditanya sama Pak Sony, 'Eh, lu kan pasang nih 5.000 CCTV sama sidik jari. Coba diperlihatkan sama saya seperti apa. Saya butuh SPPG di SDN 01 Jakarta Timur. Coba kamu lihat seperti apa?'. Mereka tidak bisa memperlihatkan," urai Krisna.

Kondisi ini memunculkan fakta pahit terkait ketersediaan sarana prasarana bagi anak-anak yang menjadi target program makan bergizi tersebut.

"Jadi artinya, 5.000 CCTV dengan sidik jari untuk penerima manfaat itu, anak-anak penerima manfaat itu, tidak terpasang," tambahnya.

Anggaran Cair Tanpa Wujud Fisik

Verifikasi lapangan yang berujung buntu ini memperkuat dugaan bahwa anggaran bernilai fantastis yang sudah dicairkan tersebut tidak memberikan hasil nyata di lapangan.

"Artinya bahwa BGN sudah keluar uang Rp 300 miliar lebih, tapi nyatanya vendornya begitu diverifikasi oleh Pak Sony kemarin untuk mencontohkan titik-titik mana saja CCTV itu yang sudah dipasang, vendor itu tidak bisa menjawab dan tidak bisa memberitahukan di mana saja telah dipasang. Dia jawab itu total loss. Artinya bahwa itu boleh dikatakan adalah fiktif," paparnya. ***