
PEKANBARU, GORIAU.COM - Sekitar 80 persen dari kebutuhan hewan kurban di Riau harus dipasok dari daerah lain khususnya dari Sumatera Barat dan Lampung. Tingginya pertumbuhan penduduk yang dibarengi besarnya permintaan terhadap daging disinyalir menjadi penyebab tak terpenuhinya pasokan.
''Tingginya pertumbuhan penduduk dari tahun sebelumnya memaksa kita untuk mendatangkan hewan kurban dari deaerah lain. Dari total kebutuhan 25.000 ekor, 80 persen berasal dari provinsi tetangga terutama Sumatera Barat dan Lampung, sedangkan pasokan yang tersedia di Riau hanya 3.000 ekor,'' ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Riau Patrianov menjawab wartawan, Kamis (4/10/2012).
Tahun lalu, Riau membutuhkan 20.000 hewan kurban berupa sapi dan kerbau, namun tahun ini permintaan naik menjadi 25.000 ekor atau 20 persen. ''Saat ini sebagian hewan kurban sudah masuk ke Riau. Hewan ini ditampung di satu lokasi sebelum disebarkan sesuai permintaan,'' tegasnya.
Di kesempatan itu Patrianov juga mengatakan, hewan untuk kurban harus sesuai ketentuan yang berlaku dan harus dalam keadaan sehat. Karena itu, harus dilakukan pemeriksaan dan pengawasan kesehatan hewan kurban.
''Pemeriksaan kesehatan ini tentunya meliputi pemeriksaan secara keseluruhan. Selain itu juga melakukan pemeriksaan terhadap antisipasi antrak, antisipasi penyakit ngorok, antisipasi penyakit mulut dan kuku, serta kemudian penyakit cacing hati,'' jelas Patrianov.
Jika hewan yang akan dikurbankan itu tidak memenuhi standarnya kesehatan, apalagi mengidap penyakit antrak, ngorok, penyakit mulut dan kuku, serta penyakit cacing hati, maka hewan kurban tersebut akan diafkir atau disilang cat merah. ''Artinya hewan tersebut harus ditukar dan tidak diperboleh untuk disembelih,'' katanya. (rdt)