SINGAPURA - Warga Singapura keturunan India, Chandara seorang penganut Hindu yang taat. Bahkan ketika memutuskan untuk menikahi Indrani, ia mendapatkan petunjuk jodoh melalui sebuah pertemuan dengan salah satu penghuni langit versi Hindu, Dewi Kaliamma lewat mimpi.
Sepasang anak manusia yang taat menyembah sekitar 3.360 dewa dan dewi Hindu ini pun membina rumah tangganya dalam suasana religius. Lidah Chandara mulai dari pagi hingga malam tiba tidak lepas dari mantra-mantra pujian bagi ribuan dewanya.
Setiap pekan, pasutri ini pun kerap mendengarkan ceramah dari pemuka agama Hindu, swami. Apalagi Chandara dikenal sebagai asisten swami ketika mendapat panggilan untuk mengusir roh-roh jahat dari rumah umat Hindu lainnya.
Indrani kerap melihat sang suami mengalami semacam kerasukan roh dewa gajah, Vinayagar. Saat kerasukan itulah, Chandara sering dimintai masukan oleh umat Hindu yang menyembah sang dewa gajah.
Cukup Menyembah
Di balik kemahsyurannya sebagai orang yang terpilih tubuhnya dirasuki dewa, sejatinya jiwa Chandara kosong. Dia sendiri mengaku serang merasa ada sebuah energi yang menghalanginya untuk mencapai sebuah pencerahan.
Di tengah kebingungannya, Chandara pergi ke sebuah perpustakaan untuk mencari pencerahan ilmu tentang Hinduisme. Lantaran ia sudah yakin bahwa para pemuka agamanya tidak bakal mau berbagi tentang pengetahuannya karena ada sebuah prinsip bahwa ilmu agama seperti semangkok nasi yang sudah dibagi-bagikan untuk masing-masing orang.
Chandara belum menemukan apa yang ia cari dari kitab-kitab berbahasa Sansekerta di perpustakaan tadi. Bahkan kitab Bhagawad Gita pun belum mampu memuaskan pemikirannya.
Sepanjang proses pencarian, seorang misionaris Kristen di area Toa Payoh mendekati Chandara. Ia sempat membuka dirinya untuk belajar agama Kristen. Namun, perasaannya tidak cocok saat berada di gereja.
Suatu hari, Chandara bertanya kepada teman-temannya yang keturunan Malay. Meski tidak menyebutkan tentang ajaran Islam, mereka memberitahu Chandara bahwa mereka sembahyang untuk menghadap satu Tuhan saja.
Penasaran, Chandara pun mengikuti teman-temannya shalat Zhuhur di masjid. Ternyata, ia terpikat dengan suara azan yang sangat menyentuh kalbunya.
Ia merasakan bahwa untuk menemukan Tuhan sejati ternyata sangat simpel. "Cukup menyembahnya, tak perlu mengidolakannya dan menjadi mediator bagi kehadirannya dalam tubuh kita," urai Chandara dilansir dari islamreligion.com, Sabtu (5/12).
Proses Pencarian yang Sempurna
Chandara pun memutuskan mempelajari Alquran dan ibadah dalam Islam. Sementara, istrinya yang masih aktif pergi ke kuil merasa bingung dengan perubahan perilaku sang suami.
Begitu pula sang mertua yang merasakan bahwa sang anak yang dahulunya Hindu militan mulai menghindari menyembah para dewa.
Setelah mantap dengan Islam, Chandara bersyahadat medio tahun 2006. Masalah pertama yang ia hadapi tentulah sang istri yang tidak menyukai keberadaan komunitas Muslim. Namun, Chandara memberikan pemahaman sedikit demi sedikit melalui media televisi Islam, Pedoman.
Chandara tak ragu membeli Alquran yang diterjemahkan oleh Yusuf Ali dan membacanya di hadapan sang istri. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi, awal penciptaan manusia, surga, dan neraka.
Chandara menyodorkan buku-buku tentang agama Kristen, Sikh, dan Hindu agar sang istri dapat membandingkan terlebih dahulu ajaran agama mana yang lebih mengena di batinnya.
Mimpi Lihat Kakbah
Suatu malam, Indrani yang tengah hamil tidak bisa tidur. Ia pergi keluar kamar dan menemukan Alquran milik Chandara. Ia pun mulai membacanya.
Setelah itu, ia kembali ke ranjangnya karena mengantuk. Di dalam tidurnya, ia bermimpi melihat Kakbah. Pada hari lainnya, ia bermimpi dewa-dewanya marah dan memperingatkan dia agar tidak belajar Islam. Namun, mimpi-mimpinya didominasi gambaran Kakbah dan Islam.
Puncaknya, Indrani dalam mimpinya mendengar sebuah suara, "Aku adalah Muhammad, penyampai ajaran Allah. Ikutilah jalanku dan setan-setan akan pergi. Bertanyalah pada suamimu!"
 Mimpi-mimpi tadi sangat berpengaruh pada Indrani. Sejatinya, ia sangat ingin mengikuti jejak suaminya. Tapi, ia khawatir dengan kandungannya. Ia takut akan terjadi kesialan pada jabang bayi ketiganya.
Sang suami meyakinkan Indrani bahwa jika Allah berkehendak, maka anak-anak mereka akan dijaga-Nya. Maka, Indrani pun bersedia bersyahadat ke pusat mualaf Singapura, Dar-ul Arqam.
Kemudian, mereka mengurus pergantian identitas, termasuk nama Chandara menjadi Mohamed Rafiq dan Indrani mendjadi Nishani ke Pusat Teologi Islam (Jamiyah) Singapura.
Rintangan lain menghadang. Keluarga besar mereka murka mengetahui Rafiq dan Nishani mejadi Muslim. Mereka berprasangka bahwa Rafiq menjadi Muslim agar bisa menikahi perempuan lainnya sebagai istri kedua.
Keluarga Rafiq pun dijauhi. Namun, Nishani yakin bahwa Allah lebih mencintainya, suami, dan anak-anaknya dibanding keluarga besarnya. Akhirnya, berkat keikhlasan dan ketulusan hati mereka serta ridho Allah, keluarga besar mereka kini sudah bisa menerima pilihan mereka dengan lapang dada.***


